Review Film “Sometimes in April”


Film ini berkisah tentang genosida yang terjadi di negara Rwanda, Afrika pada bulan April 1994, dimana yang jadi korban disini adalah Suku Tutsi, dan pelaku pembantaian adalah Suku Hutu. Genosida yang terjadi merupakan lanjutan dari perang etnis yang terjadi diantara kedua suku. Korban dari tragedi ini diperkirakan hampir mencapai angka satu juta jiwa.

Film ini merupakan film dokumenter, yang mengangkat kehidupan seorang mantan anggota militer Rwanda, bernama Augustin, yang kehilangan hampir seluruh anggota keluarganya karena tragedi pembantaian yang terjadi. Bahkan, Augustin sendiri masuk dalam daftar eksekusi walaupun dia Suku Hutu, tak lain karena dia menikahi seorang perempuan dari Suku Tutsi.

Dillihat sekilas, kasus ini merupakan krisis internal dalam negeri Rwanda, tetapi yang diceritakan oleh film ini lain. Terdapat keikutsertaan pihak asing dalam kasus yang terjadi. Senjata – senjata yang digunakan untuk membantai Suku Tutsi adalah sumbangan dari pihak asing seperti Perancis dan China. Ditengarai juga terdapat kepentingan Amerika disana, karena kasus ini sudah diprediksi terjadi oleh CIA, dimana kondisi terbaik yang bisa diharapkan adalah korban jiwa sejumlah 20.000 orang, dan kondisi terburuk jatuh korban sebanyak 500.000 jiwa. Tapi yang terjadi jauh lebih buruk dari prediksi itu, karena jumlah korban mencapai hampir mencapai jumlah satu juta jiwa.

Genosida merupakan salah satu pelanggaran berat dalam Hukum Humaniter Internasional, bersama – sama dengan pelanggaran terhadap hukum dan kebiasaan perang, kejahatan terhadap perdamaian, dan kejahatan terhadap perikemanusiaan.

Awal mula dari tragedi genosida ini adalah kudeta yang dilakukan oleh petinggi militer, karena presiden dianggap tidak tegas dalam menyelesaikan konflik etnis yang terjadi. Keadaan semakin diperparah oleh sebuah siaran radio yang sangat jelas memercikkan api permusuhan diantara Suku Hutu dan Tutsi. Genosida dimulai setelah pesawat kepresidenan di bom jatuh oleh pihak militer.

Menurut HHI, kasus yang terjadi di Rwanda digolongkan kedalam sengketa bersenjata non – internasional. Walaupun ini bukanlah sengketa internasional, namun hal ini diatur oleh HHI, sehingga idealnya jalannya konflik harus sesuai dengan kaedah – kaedah yang berlaku dalam HHI. Pasal 3 konvensi Jenewa tahun 1949 menentukan aturan-aturan HHI dan kewajiban para pihak yang berkonflik untuk melindungi korban perang dalam perang yang tidak bersifat internasional, namun belum dijelaskan kriteria atau definisi sengketa bersenjata non-internasional.

Kriteria tentang sengketa bersenjata non – internasional dimuat dalam Protokol Tambahan II/ 1977 tentang perlindungan Korban Sengketa Bersenjata  Non-Internasional, yaitu: sengketa bersenjata yang terjadi dalam wilayah suatu negara antara pasukan bersenjata negara tersebut dengan pasukan bersenjata pemberontak atau dengan kelompok bersenjata terorganisasi lainnya yang terorganisasi di bawah komando yang bertanggung jawab melaksanakan kendali sedemikian rupa atas sebagian dari wilayahnya sehingga memungkinkan kelompok tersebut melakukan operasi militer yang berkelanjutan dan berkesatuan serta menerapkan aturan-aturan HHI yang termuat dalam Protokol Tambahan II/ 1977.

Dengan pencantuman tentang konflik non internasional dalam Protokol Tambahan, maka HHI tidak lagi hanya mencakup konflik bersenjata internasional, tapi juga non internasional, atau dengan kata lain, aturan – aturan HHI harus ditaati pada setiap konflik yang berlangsung, baik yang bersifat internasional maupun tidak.

Dalam kasus yang terjadi di Rwanda, dimana awalnya kasus digolongkan sebagai sengketa bersenjata non – internasional, yang berarti semua pihak yang terlibat harus tunduk pada aturan – aturan HHI, namun yang terjadi justru pelanggaran terhadap semua prinsip – prinsip dan aturan – aturan HHI, sehingga keadaan tidak dapat dikendalikan dan berujung pada genosida yang merenggut nyawa ratusan ribu jiwa.

HHI memiliki delapan prinsip, yaitu:

  1. Kemanusiaan
  2. Necesity (kepentingan)
  3. Proporsional (Proportionality)
  4. Distinction (pembedaan)
  5. Prohibition of causing unnecessary suffering (prinsip HHI tentang larangan menyebabkan penderitaan yang tidak seharusnya).
  6. Pemisahan antara ius ad bellum dengan ius in bello.
  7. Ketentuan minimal HHI
  8. Tanggungjawab dalam pelaksanaan dan penegakan HHI.

Kasus yang terjadi di Rwanda telah melanggar setidaknya lima dari delapan prinsip yang ada. Penyerangan yang dilakukan oleh Suku Hutu sama sekali sudah jauh melenceng dari koridor kemanusiaan, azaz distiction (pembedaan), dan kepentingan. Mereka menyerang secara serampangan, tak peduli anak – anak, wanita, atau orang tua, selama mereka bersuku Tutsi, atau terkait dengan suku Tutsi, maka suku Hutu akan melakukan penyerangan kepada mereka.

Penyerangan yang dilakukan juga tidak memandang tempat. Mereka melakukan penyerangan di tempat – tempat yang menurut aturan HHI tidak boleh diadakan penyerangan, seperti rumah ibadah dan sekolah.

Diatas semua itu, pelanggaran terberat yang terjadi adalah genosida. Pembantaian yang terjadi selamanya akan menjadi sejarah hitam bangsa Rwanda. Kesakitan dan trauma yang diakibatan oleh kejadian itu akan selamanya membekas dalam pikiran rakyat Rwanda, terutama para korban selamat yang mengalami langsung kejadian itu, ataupun mereka yang kehilangan anggota keluarganya.

Sayangnya, dari 83 orang tersangka penyebab tragedi itu, baru 20 orang diantaranya yang dijatuhi hukuman, dan orang – orang yang menyaksikan tetapi tidak berusaha menghentikan terjadinya pembantaian tidak dihukum sama sekali.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s