human security, terorism and military forces (unfinished)


secara internasional, sampai saat ini belum ada defenisi mengenai terorisme yang disepakati, tetapi hal-hal yang terkait dengan defenisi terorisme ini berkisar antara ancaman dan kekerasan yang ada kepentingan politik dan menimbulkan ketakutan di masyarakat.
kata-kata teror muncul saat terjadinya Revolusi Prancis tahun 1789, dimana saat itu hubungan teror dan negara terlihat masuk akal, tetapi saat ini defenisi terorisme menjadi cenderung ambigu. undang-undang pencegahan tindakan terorisme Inggris yang disahkan tahun 1974 mendefenisikan terorisme sebagai penggunaan kekerasan untuk tujuan politik, termasuk penggunaan kekerasan dengan tujuan menciptakan ketakutan di bidang publik.
untuk menghindari potensi tumpang tindih dalam defenisi mengenai teroris ini, maka tindakan aparatur negara harus dibedakan dengan terorisme, karena negara berhak untuk memberi sanksi yang mengandung unsur kekerasan dalam wilayah teritorinya, maka oleh sebab itu rasanya defenisi yang cocok untuk terorisme adalah penggunaan kekerasan dengan tujuan politik yang menyebabkan ketakutan di masyarakat, dilakukan oleh aktor non negara yang tidak bertanggung jawab.
banyak faktor yang membuat defenisi tunggal terorisme tidak bisa diterima secara internasional, antara lain perkembangan komunitas internasional, dan karena teroris masih merupakan kata dengan konotasi negatif.

secara umum, terorisme bisa digolongkan kedalam tiga tipe. tipe pertama dikenal dengan tipe nationalis/separatis. kelompok ini bertujuan untuk mencapai kepentingan nasional, atau memisahkan diri dari suatu negara. terorisme yang masuk dalam kelompok ini sulit untuk dibasmi. tipe kedua dikenal dengan kelompok grup sayap kiri dan sayap kanan (left and right wings). kelompok ini melakukan teror untuk menata ulang struktur negara atau institusi internasional secara radikal. tipe teroris yang terakhir adalah religious groups. kelompok ini bekerja dibawah ideologi untuk menegakkan kebenaran. grup ini telah mendominasi peta politik internasional semenjak perang dingin berakhir. salah satu kelompok teroris yang paling kejam dalam catatan sejarah adalah Al-Qaeda, dan kelompok ini masuk dalam tipe ketiga. Al-Qaeda punya agenda transnasional, dengan tujuan jangka panjangnya adalah mengusir USA dari timur tengah, dan menegakkan otoritas Islam. cara rekruitmen Al-Qaeda tidak lagi memakai cara lama berupa camp-camp konsentrasi di Afghanistan, melainkan melalui internet, simpatisan, dan jaringan. rekruitmen tidak bersandar pada metode top-down.

counter-terrorism merupakan serangkaian strategi dan mekanisme untuk memprediksi dan mencegah aksi teror, termasuk didalamnya tindakan meningkatkan keamanan, penelusuran aliran dana, kemampuan untuk menangkap dan investigasi, serta taktik lainnya. pendekatan yang digunakan dalam tindakan counter terrorism ini terbagi dua, yaitu pendekatan secara halus, dan menggunakan militer.

pendekatan secara halus dilakukan lewat jalan negosiasi dengan persiapan matang. pendekatan ini mencoba untuk melenyapkan akar dari tindakan terorisme, dan mencarikan jalan lain bagi pelaku terorisme untuk menyampaikan tuntutannya. biasaya pendekatan ini dilakukan, jika akar tindakan terorisme yang teridentifikasi adalah kemiskinan dan tekanan politik, dan para pelaku teror menganggap bahwa tindakan teror merupakan satu-satunya cara untuk mendapat keadilan dan distribusi sumberdaya yang lebih merata.

hasil kajian dari berbagai tindakan teror yang terjadi menimbulkan bahwa tidak semua pelaku teror merupakan orang-orang tidak berpendidikan dengn tingkat ekonomi lemah, tetapi juga terdapat pelaku yang berasal dari kalangan kelas menengah yang bertindak mengatas namakan saudara-saudara mereka yang kurang beruntung, sehingga kemiskinan saja tidak cukup dijadikan sebab munculnya tindakan teror, dan usaha internasional untuk menghapuskan kemiskinan dan menaikkan standar pendidikan tidak berdampak signifikan terhadap aktivitas teroris.

militer merupakan instrumen utama yang digunakan dalam perang terorisme, dengan penggunaan strategi prevention, deterrence, coercion, disruption, dan destruction. strategi prevention digunakan untuk mengendalikan kondisi yang memungkinkan teror terjadi. deterrence digunakan untuk memecah konsentrasi aktivitas teroris. coercion, disruption, dan destruction difokuskan untuk memberantas pihak-pihak yang mensponsori tindakan terorisme.

peran terbaik yang bisa dimainkan oleh militer dalam melawan teror adalah mempertahankan tanah air, karena secara tradisional militer berperan untuk membantu otoritas sipil. akan lebih produktif kiranya jika militer difokuskan pada tindakan pencegahan teror, seperti memberikan bantuan militer bagi negara yang gagal untuk meredam dan menstabilkan situasi sebelum mencapai titik dimana tindakan teror terjadi. di tingkat internasional, militer bisa dimasukkan kedalam program reformasi sektor keamanan, dimana instrumen militer berperan untuk membantu negara yang gagal untuk meningkatkan kapasitas militer dan penegakan hukum mereka.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s