Environmental Protection is Seen As a Classic Collective Action Problem. Is That True? How? Why?


Lingkungan adalah keadaan dimana terjadi perpaduan yang mencakup sumber daya alam, flora dan fauna di daratan maupun lautan, serta manusia sebagai pengelola dan penggunanya. Lingkungan terdiri dari dua komponen, yaitu biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah segala sesuatu yang tidak hidup, seperti udara, air, tanah, bahan tambang, cahaya, dan lainnya. Komponen biotik mencakup segala yang bernyawa, seperti manusia, tumbuhan, hewan, dan mikro organisme.

Setiap negara – negara di dunia mempunyai suatu badan khusus di pemerintahan yang mengatur masalah lingkungan. Di Indonesia, instansi pemerintahan yang menangani permasalahan lingkungan hidup adalah Kementrian Lingkungan Hidup, sedangkan di USA adalah EPA (Evironmental Protection Agency).

Dengan semakin modernnya dunia, diiringi dengan permasalahan lingkungan yang bermunculan, seperti berlobangnya lapizan ozon, gas rumah kaca, pemanasan global beserta akibatnya, seperti berkurangnya es di kutub utara dan selatan yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut yang menenggelamkan pulau – pulau kecil, naiknya suhu dunia, pengasaman lautan, dan cuaca yang tidak menentu. Permasalahan ini mengancam eksistensi semua komponen biotik di dunia ini.

Belakangan ini permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan makin mengkhawatirkan, tidak hanya terjadi di satu negara, tapi juga hampir di semua negara dunia, sehingga permasalahan tentang lingkungan menjadi perhatian dunia, dan usaha untuk melindungi lingkungan menjadi suatu aksi bersama negara – negara di dunia. Bagaimana dan mengapa mereka melakukan aksi itu merupakan sesuatu yang menarik untuk didiskusikan.

Permasalahan lingkungan tidak hanya menjadi perhatian negara – negara saja, tetapi juga banyak NGO yang terdiri dari para ahli dan pemerhati lingkungan memperhatikan dan berusaha mengatasi permasalahan lingkungan, walu terkadang cara – cara mereka dianggap tidak lazim dan radikal.

Salah satu NGO yang sangat terkenal akan kepedulian mereka terhadap lingkungan, dan aksi – aksinya yang tergolong radikal adalah Green Peace. NGO yang bergerak di hampir seluruh dunia ini, tak henti – hentinya menyerukan larangan penebangan hutan, bahkan mereka melakukan berbagai aksi ekstrim yang mengancam keselamatan aktivisnya, demi menyelamatkan lingkungan. Begitu banyak para aktivis Green Peace yang ditangkap karena aksi mereka, disetiap pertemuan internasional yang membahas tentang lingkungan.

Berbagai NGO lain juga melakukan aksi yang tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Green Peace. Para pemerhati lingkungan yang tergabung dalam kelompok kepentingan juga melakukan aksi untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Mereka menyiarkan suatu kasus yang mereka temui di suatu daerah, dengan tujuan untuk menarik perhatian dunia, sehingga para pemimpin dunia sadar betapa sudah rusaknya lingkungan ini, dan bisa membuat keputusan yang menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang lebih parah.

Contoh kasus yang coba mereka angkat adalah kekeringan di Afrika, krisis air bersih di Amerika Selatan, penebangan hutan yang terjadi di Brazil dan Indonesia. Mereka berusaha menyadarkan dunia bahwa jika kerusakan lingkungan tidak dihentikan sekarang juga, maka satu – satunya masa depan yang tersisa bagi generasi selanjutnya adalah kehidupan tanpa air bersih, polusi, terbenamnya pulau – pulau kecil, dan tingginya tingkat penderita penyakit kanker kulit karena paparan langsung sinar UV, tanpa ada lapisan ozon yang menahannya.

Akibat dari tidak stabilnya lingkungan sudah terlihat sangat jelas. Di beberapa tempat, hujan turun sangat deras, hingga mengakibatkan banjir, dan di tempat lain curah hujan sangat sedikit sehingga terjadilah kekeringan. Selain itu, musim sudah tak menentu lagi. Masyarakat di berbagai belahan dunia mengeluh akan sengatan sinar matahari yang membakar kulit, bahkan di India dan USA dilaporkan beberapa kematian diakibatkan oleh tingginya suhu, dan intensitas panas yang dianggap berlebihan.

Dari paparan contoh kasus diatas, maka jawaban mengapa negara – negara melakukan aksi kolektif untuk melindungi lingkungan sudah sangat jelas, yaitu permasalahan lingkungan yang terjadi tidak hanya pada satu negara saja, tapi sudah menjadi permasalahan di hampir setiap negara dunia, seperti yang sudah dikemukakan di atas.

Dunia tidak bisa lagi menutup mata terhadap ketidakstabilan lingkungan, dan akibatnya. Bentuk perhatian negara – negara terhadap lingkungan, diwujudkan dengan diadakannya pertemuan tingkat menteri dan kepala negara. Begitu banyak pertemuan – pertemuan internasional yang diadakan untuk membahas permasalahan lingkungan, terutama perubahan iklim, dimana yang jadi pembicaraan selalu pemanasan global, emisi karbon, dan menipisnya lapisan ozon. Sebuah permasalahan klasik yang sampai sekarang tidak ditemukan solusinya. Pertemuan tingkat dunia yang terakhir digelar adalah COP 15 Copenhagen pada tanggal 7 – 18 Desember 2009.

Semua negara sepakat untuk menangani bersama permasalahan lingkungan ini. Tapi perundingan yang terjadi di antara mereka begitu alot. Point yang selalu menjadi perdebatan adalah tentang emisi karbon. Terdapat perbedaan jumlah emisi karbon yang harus dikurangi antara negara maju dan negara berkembang. Seperti kasus yang terjadi pada COP 15 Copenhagen kemaren, negara – negara berkembang setuju untuk menurunkan emisi karbon sebanyak 26 persen, tapi USA bertahan dengan proposal mereka, yang hanya menyetujui penurunan emisi sebanyak 17 persen.

Pertemuan ini bisa dibilang tidak menghasilkan keputusan, karena masing – masing pihak bertahan dengan kepentingannya. USA tidak bisa menerima kesepakatan untuk menurunkan emisi sebanyak 26 persen, karena akan mendatangkan kerugian pada mereka. Sebagai negara kapitalis, maka perekononian bergantung pada hasil produksi. Jika mereka menyetujui pengurangan emisi sebanyak 26 persen, maka otomatis mereka meminta pabrik menurunkan tingkat produksi. Hal ini menyebabkan perekonomian USA tidak berjalan sebagai mana mestinya.

Walaupun begitu, muncul isu baru dalam pertemuan itu, yaitu jual beli karbon. Ini berarti negara – negara kapitalis memberikan dana kepada negara – negara yang mempunyai hutan tropis untuk melindungi hutan mereka, dan melakukan reboisasi terhadap lokasi – lokasi yang sebelumnya jadi tempat pembalakan liar, sehingga permasalahan iklim bisa diatasi jika jumlah hutan yang ada tidak berkurang dan terpelihara dengan baik. Salah satu negara yang ikut mencetuskan ide ini adalah Indonesia.

Ini mungkin bisa dianggap sebagai salah satu jalan keluar, dan menjadi aksi bersama negara – negara dunia dalam melindungi lingkungan dari kerusakan yang lebih parah. Tapi yang perlu diperhatikan adalah, negara – negara dengan hutan tropis merupakan negara – negara berkembang dengan permasalahan dalam negeri yang rumit, seperti perekonomian dan pengangguran. Negara yang saya maksud adalah tentu saja Indonesia dan Brazil. Di Indonesia, faktor utama terjadinya pembalakan liar adalah tekanan ekonomi, dan sampai saat ini pemerintah belum bisa menangani masalah ini. Selain itu, terjadi pembakaran hutan tiap tahunnya di Kalimantan dan Riau, dengan alasan pembukaan lahan. Sangat sulit untuk menjaga tidak berkurangnya luas hutan di Indonesia, selain karena faktor ekonomi, aparat yang bertanggung jawab (polisi hutan) jumlahnya tidak sebanding dengan luas hutan yang harus dijaga. Saya kira keadaan di Brazil juga tidak jauh berbeda.

Sejauh ini, kesepakatan yang dihasilkan oleh negara – negara dunia terkait dengan lingkungan hanya keputusan normatif. Jika tidak ada aksi pasti dan kebijakan yang mengikat kuat dari para pemimpin dunia terkait permasalahan lingkungan ini, maka yang akan kita lihat kedepan adalah kehancuran yang diakibatkan oleh modernisasi.

Ketidakstabilan lingkungan membawa pada keadaan yang lebih buruk, seperti mengancam ketahanan pangan, wabah penyakit, dan kekeringan, sehingga perlindungan lingkungan tidak hanya menjadi aksi bersama negara – negara dunia, tapi seharusnya juga menjadi hirauan semua manusia yang hidup di bumi ini. Masyarakat dunia harus melakukan aksi bersama untuk melindungi bumi ini.

Walaupun negara – negara baru bisa menghasilkan keputusan yang bersifat normatif, tetapi masyarakat dunia bisa melakukan aksi yang sifatnya lebih konkrit, dengan bantuan dari NGO – NGO yang menjadikan lingkungan sebagai bidang hirauan nya. Masa depan dunia dan kelestarian lingkungan berada di tangan manusia, karena manusia bertindak sebagai pengelola lingkungan. Apa yang mereka lakukan hari ini menberikan dampak pada kehidupan generasi mendatang.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s