US Grand Strategy – Cooperative Security


Politik Global Amerika Serikat

Yopi Fetrian, S.Ip, M.Si, MPP

Anita Afriani, S.Ip, M.Si

Haiyyu Darman Moenir, S.IP, M.si

Competiting Vision for US Grand Strategy

Barry R Posen & Andrew L. Ross

Siti Oktovani – 0810852015

Nuzul Fithra Yessya – 0810852031

Debby Rizqie A G – 0810852034

Kerjasama Keamanan – Cooperative Security

Perbedaan yang paling penting dalam Cooperative Security disini adalah proposisi perdamaian yang tidak dapat dipisahkan secara efektif. Cooperative Security dimulai dengan sebuah konsep ekspasif kepentingan – kepentingan AS : AS memiliki kepentingan nasional yang besar dalam menciptakann perdamaian dunia. Cooperative Security merupakan satu – satunya dari empat strategi alternatif yang diinformasikan oleh liberalisme (bukan realisme). Para pendukungnya menawarkan untuk bertindak secara kolektif, melalui lembaga – lembaga internasional sebanyak mungkin. Mereka menganggap bahwa demokrasi akan lebih mudah didapat dengan bekerja bersama dalam sebuah regim kerjasama kemanan.

Cooperative Security tidak melihat great power sebagai sebuah permasalahan umum keamanan. Karena sebagian besar merupakan merupakan demokrasi, atau jalan menuju demokrasi, dan demokrasi secara historis cenderung tidak berperang satu sama lainnya, dan rendahnya harapan terjadinya kompetisi keamanan dalam great power. Transisi yang terjadi di Rusia dan Oligarki di Cina menjadi permasalahan yang menganggu. Namun jawaban di sini adalah untuk membantu mereka menuju sistem demokrasi, seperti dalam kebijakan pemerintahan Clinton ‘Engangement dan Enlargement’. Motive great power untuk berkolaborasi diduga lebih besar dibandingkan di masa lalu, dan rendahnya tingkat hambatan untuk melakukan kerjasama.

Cooperative Security perusahaan merupakan sebuah upaya untuk mengatasi kelemahan keamanan kolektif tradisional. Sekaligus, tindakan aggression, dimanapun dan oleh siapapun tidak dibenarkan. Kerjasama internasional adalah untuk mencegah dan mengagalkan aggresion. “all for one – one for all” . Pendukung Cooperative Security ini tidak hanya bergantung pada keseimbangan kekuatan yang muncul secara spontan, karena hal ini hanya mungkin ketika kepentingan penting tradisional terlibat. Sebaliknya lembaga internasional (khususnya PBB) yang memainkan peran penting dalam mengkoordinasi dalam upaya pencegahan dan menentang aggression. Institusi regional, seperti NATO, memiliki peranan penting ketika institusi internasional menjadi lemah. Respon institusi – institusi untuk mendekati ancamandan menghalangi pihak – pihak yang akan menghancurkan perdamaian.

Sebelumnya, great power mungkin melihat perang – perang kecil tidak sebagai ancaman bagi keamanan nasionalnya. Namun munculnya senjata pemusnah massal menandakan bahwa setiap perlombaan senjata / perang dapat menghasilkan kehancuran kelas – kelas dunia. Amerika, dan memang seluruh dunia industri, benar – benar tidak dapat hidup dengan resiko ini dalam jangka waktu yang tanpa batas. Senjata nuklir tidak tidak mendukung status quo, pengecualian bagi sebagian kecil great power memilikinya. Sebagian negara – negara tidak memiliki sumber daya / kemampuan dalam mengorganisir pengerahan pasukan sebagai serangan balasan. Korban dari demokrasi menunjukkan bahwa resiko bahkan dari serangan nuklir kecil akan mencegah mereka dari datangnya bantuan negara – negara yang dalam kesulitan. Aggressor / penyerang diharapkan menjadi tidak demokratis, serakah ; senjata nuklir mendukung mereka. Sehingga kontrol persenjataan nuklir, khususnya non – proliferasi berada di pusat Cooperative Security.

Cooperative Security menyebutkan bahwa tiga strategi lainnya bahkan tidak dipertimbangkan. Pembahasan tingginya tingkat ‘strategic of independence’. Perang disatu tempat akan menyebar ; praktek militer yang buruk digunakan dalam suatu perang akan dipakai dalam perang lain. Penggunaan senjata pemusnah massal akan menurunkan penggunaannya di tempat lain ; pembersihan / pemusnahan terhadap suatu etnis akan melahirkan jumlah yang lebih besar lagi. Pengungsi yang melarikan diri dari kekerasan nasionalis suatu negara akan memberikan energi xenophobia (kebencian) di negara – negara pengungsi.

Isu dan Instrumen

Pendukung Cooperative Security percaya bahwa mereka saat ini lebih efektid dalam mencapai tujuan mereka. AS juga dianggap – berdasarkan kemenangan Dessert Storm, memegang superioritas militer dan teknologi serta menjalankan perang dengan korban yang rendah. Dimasa lalu, para pendukung Cooperative Security mengandalkan opini publik dunia dan sanksi ekonomi. Mereka memahami bahwa sulit untuk menarik pihak – pihak / negara lain untuk mendukung aksi intervesi militernya, sehingga mereka berfokus pada upaya – upaya yang membutuhkan biaya yang lebih murah.

Sebuah strategi Cooperative Security tergantung pada organisasi – organisasi internasional untuk mengkoordinasi tindakan – tindakan kolektif. Mereka merupakan bagian dari proses yang rumit dari pembangunan kredibiliti untuk meyakinkan semua aggressor bahwa mereka akan dipengaruhi oleh kekuatan countervailing. Ancaman dari great power untuk intervensi – bahkan ketika mereka tidak memiliki kepentingan langsung, harus dibuat kredibel. Sebuah organisasi internasional dengan substansial domestik dan legitimasi internasional sangat diperlukan untuk koordinasi aksi multilateral untuk menciptakan sebuah ekspektasi yang tetap dan aksi intervensi efektif untuk damai.

Para pendukung aliran ini menekankan bahwa Cooperative Security mengalami kemajuan. Struktur Cooperative Security global tidak akan berkembang secara penuh. Perkembangan militer dunia telah terlibat dalam jaringan besar dari kendali sangsi internasional tentang cara – cara mempersenjatai diri, dan mengoperasikannya di masa damai. Cooperative Security berarti berusaha untuk memperkuat dan menyatu dengan jaringan ini. Masa kepresidenan Clinton melihat perkembangan NATO secara khusus merupakan perpanjangan dari proyek Cooperative Security.

Proliferasi adalah isu kunci bagi para pendukung Cooperative Security. Mereka sangat kuat mendukung langkah – langkah pencegahan dan sikap berhati – hati. Mereka tidak hanya mendukung NPT, tapi juga penguatan usaha perlindungannya. Kebijakan yang diambil melibatkan sekutu, musuh, dan pihak netral, secara sama. Proliferasi harus dilakukan untuk alasan lain, yaitu: semakin banyak senjata nuklir didunia, semakin berbahaya bagi organisasi – organisasi internasional untuk melawan penjahat secara agresif, dan semakin rendah kemungkinan mereka bertindak, semakin besar kemungkinan runtuhnya bangunan Cooperative Security secara keseluruhan.

Konflik regional antar negara menjadi kepentingan kritis bagi pendukung Cooperative Security. Agressi lintas batas tidak pernah bisa diterima. Konflik internal negara muncul sebagai masalah baru yang serius bagi strategi ini. Menurut sejarah, Cooperative Security berusaha untuk membangun kondisi aman diantara sejumlah kecil great powers dan empires. Konflik antar kelompok bisa menjadi konflik antar negara. Perang sipil bisa mengundang intervensi asing, dan memicu perang internasional. Para pendukung aliran ini menganjurkan aksi militer untuk tujuan kemanusiaan.

Pendukung Cooperative Security kelihatannya ingin terlibat dalam aksi kemanusiaan jangka pendek, dan prinsip politik jangka panjang pada saat yang sama. Ini memerlukan operasi militer. Ketika Cooperative Security menginginkan pengadopsian bentuk pertahanan militer, sejumlah kecil negara, termasuk Amerika harus membiayai bagian tertentu dari angkatan militer mereka melampaui apa yang dibutuhkan untuk pertahanan teritorial dan membuat bagian ini tersedia sebagai angkatan multi nasional saat dibutuhkan.

Penugasan angkatan ini fokus pada cara. Ini mengesampingkan keperluan regular, dan aksi militer berkelanjutan jika terdapat harapan untuk membangun kepercayaan internasional, yang dibutuhkan untuk mempengaruhi perhitungan kemungkinan aggresor dimanapun.

Sebuah kerjasama dalam strategi keamanan yang sesungguhnya bisa melibatkan Amerika Serikat dalam beberapa tindakan militer yang bersifat simultan. pasukan AS baru-baru ini terlibat di Irak dan di Somalia secara bersamaan, sedangkan para advokad menuntut aksi militer ketiga AS di Bosnia. Haiti selanjutnya menggantikan Somalia dalam daftar ini, sementara peran militer AS di Bosnia semakin diperluas. Pasukan PBB dikerahkan di beberapa tempat, bisa dibilang dalam jumlah yang mencukupi untuk mencapai misi mereka sepenuhnya. Pengalaman di Desert Shield / Desert Storm dan operasi pemberian bantuan terhadap Somalia menunjukkan bahwa kepemimpinan AS dijadikan elemen kunci dalam substansi kerjasama internasional.

Ini bukan berarti bahwa soft diplomasi Amerika Serikat sedang kritis, tapi lebih untuk meningkatkan reputasi militernya, yang tergantung pada kuantitas, keberagaman,serta teknologi canggih, yang ditujukan sebagai instrument operasi militer. Struktur kekuatan yang seperti ini berlangsung pada masa administrasi Clinton: Bottom-Up Review dan Base Force yang mungkin diperlukan untuk mencapai kebijakan keamanan yang kooperatif dengan peluang keberhasilan yang cukup tinggi.

Kritik

Kerjasama keamanan merupakan aspek yang cukup rentan terhadap berbagai kritik. Yang pertama, negara masih diharapkan mampu untuk berkembang diatas konsepsi kepentingan nasional dalam menanggapi seruan kerjasama kolektif, dan mengikatkan dirinya dalam apa yang terlihat sebagai suatu kesatuan demi menjaga keamanan negara lainnya. Secara teori, beberapa masalah tindakan atau aksi kolektif yang terkait dengan collective security dapat selesaikan melalui kerjasama keamanan. Secara spesifik, kombinasi yang intensif antara kontrol senjata, keunggulan teknologi militer, dan kepemimpinan AS dimaksudkan untuk mengurangi biaya kerjasama untuk setiap anggota dari rezim keamanan. Contohnya: NATO.

Kedua, kewajiban untuk membangun kredibilitas multilateral untuk mencegah serangkaian agresor baru yang cukup potensial akan terlihat sebagai suatu hal yang sulit. Aksi Reguler AS untuk melawan Uni Soviet selama Perang Dingin tidak sepenuhnya menghalangi kemunculan tantangan-tantangan baru terhadap rezim keamanan. Karena sistem dunia pada saat itu bipolar, maka kredibilitas itu seharusnya terakumulasi, namun hal ini tampaknya tidak akan terjadi. Meskipun kredibilitas AS di Eropa tampak cukup tinggi, dimana kepentingan diarahkan pada kekuatan militer yang kuat, tetap saja Uni Soviet terkadang usil.

Ketiga, demokrasi merupakan mitra bermasalah dalam proyek kerjasama keamanan dalam hal yang krusial, dimana public juga harus ikut serta dalam peperangan. Publik dalam Demokrasi liberal modern AS mempertaruhkan nyawa pasukan mereka dalam perang secara inheren.

Keempat, kerjasama keamanan kelihatanya bermasalah dalam pengawasan atau kontrol terhadap senjata. Pembuktian (verifikasi) serta penegakkan hukum terutama terhadap pengembangan potensi nuklir menjadi suatu problematika bagi Amerika Serikat. Sistem ekonomi terbuka AS sangat mendukung kerjasama keamanan terutama dalam upaya mempercepat difusi ekonomi serta teknologi dasar kekuatan militer negara. Sementara pengawasan senjata bisa meningkatkan biaya ekonomi dan risiko politik kegiatan terlarang seperti penjualan senjata illegal.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

4 Responses to US Grand Strategy – Cooperative Security

  1. friskadlaras says:

    cooperative security itu kayaknya punya neorealis deh… bukan liberalis

  2. debby109 says:

    bukan, punyanya liberal, karena ini salah satu konsep yang ditawarkan oleh woodrow wilson dalam pidatonya yg terkenal dengan “the Fourteen Points”

  3. Anonymous says:

    Kurang signifikan dalam membahas setiap aspek yang menjadi dampak collective security. Pemilihan kata-katanya juga belum pas sehingga kurang menjelaskan arti dari beberapa konsep.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s