Review Film: “Hiroshima”


Film semi dokumenter ini diawali dengan narasi tentang menyerahnya pasukan Nazi di Eropa, dan tentang perang lain yang sedang berlangsung di Pasifik, yaitu perang antara Jepang melawan Sekutu. Keadaan makin diperumit dengan meninggalnya Presiden Amerika Serikat, yaitu Roseveelt karena serangan stroke, dan Harry S. Truman yang menjabat Wakil Presiden saat itu diangkat menjadi Presiden untuk menggantikan Roseveelt.

Truman mengalami masa – masa berat, karena sebelumnya Truman adalah seorang Wakil Presiden yang kurang aktif. Roseveelt tidak pernah sebelumnya membawa Truman menghadiri rapat kabinet ataupun mengenai pembicaraan strategi perang yang sedang berlangsung. Saat Roseveelt pergi, maka sebagai Presiden USA, Truman berkewajiban melanjutkan pekerjaan Roseveelt yang belum selesai.

Truman berada dalam kebingungan yang amat sangat, dia terlihat seperti orang yang sangat mudah dipengaruhi, terutama oleh Mentri Sekretaris Negara yang sebelumnya menjabat sebagai Penasehat Presiden, yaitu Jimmy Brynes. Sampai saat sebelum bertemu dengan Jendral Grooves, Trumen sama sekali tidak mengetahui tentang bom atom dan apa yang disebut dengan Proyek Manhattan, sehingga saat dia diminta mengambil keputusan mengenai bom itu dia kebingungan.

Terjadi perdebatan disana – sini mengenai bom itu. Kontroversi juga terjadi antara orang – orang yang terlibat dengan proyek itu, ada yang menyokong tapi ada pula yang tidak. Beberapa diantaranya mengatakan bahwa bom itu akan digunakan, tapi terlebih dahulu dilakukan uji coba untuk menakut – nakuti Jepang, dengan harapan Jepang akan menyerah tanpa syarat dan bom itu tidak jadi digunakan.

Jimmy Brynes adalah orang yang sangat ambisius untuk menggunakan bom itu, juga beberapa petinggi militer lainnya. Dia bahkan tidak melaporkan hasil pertemuannya dengan ahli dari Hungaria di rumahnya disela – sela rapat komite sementara yang dibentuk terkait dengan proyek ini. Pada pertemuan itu dia mendapat tentangan keras dari ahli dan juga akademisi tentang dampak penggunaan bom itu, tapi dia tetap berkeras untuk menggunakan bom dalam peperangan.

Kondisi di Jepang juga tak kalah memprihatinkan. Kaisar Hirohito sudah lelah akan perang, tetapi angkatan bersenjata tidak mau menghentikan peperangan. Sikap Perdana Mentri Togo juga tidak membantu, karena dia tidak mengambil sikap tegas, tetapi lebih cenderung pragmatis. Hubungan yang rumit juga bentuk antara Amerika – Uni Sovyet, dan Jepang. Jepang meminta bantuan Sovyet untuk berunding dalam rangka penyelesaian perang, tetapi Sovyet telah berjanji pada Amerika untuk menyerang Jepang tiga bulan setelah mereka mengalahkan Nazi. Hubungan ketiga negara ini dilandasai rasa saling tidak percaya dan saling mencurigai.

Keputusan Truman untuk menjatuhkan bom itu dilandasi dengan keinginan untuk menghentikan perang secepatnya. Walau pada akhirnya pengeboman dilakukan setelah diberikan ultimatum, tapi sampai pada saat akhir keputusan ini tetap menjadi kontroversi diantara petinggi – petinggi Amerika.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s