Limits of American Power


Joseph S. Nye. JR

(Political Science Quarterly Vol. 117 No. 4, winter 2002 – 03)

The Economist mengatakan bahwa Amerika Serikat menguasai dunia layaknya collosus. Kekuatan ekonominya nomor satu di dunia dan tidak ada yang menandingi kekuatan militernya. USA telah melampaui apa yang disebut dengan superpower di abad ke dua puluh ini. Sekarang ini, sistem internasional dibangun bukanlah mengitari balance of power, melainkan sekitar kekuatan hegemoni Amerika. Globalisasi merupakan sinonim untuk imperialisme Amerika. Globalisasi memakai label “buatan Amerika (made in USA)”.

Amerika Serikat secara tak terbantahkan merupakan kekuasaan nomor satu di dunia, tapi sampai kapan kondisi ini bisa bertahan, dan apa yang harus dilakukan dengan kekuasaan itu? Beberapa ahli berargumen bahwa keunggulan USA hanyalah merupakan hasil dari runtuhnya Uni Sovyet, dan momen “unipolar” ini merupakan periode singkat. Yang lain beranggapan bahwa kekuasaan Amerika sangat besar, dan akan bertahan untuk beberapa dekade, dan momen unipolar bisa berubah menjadi masa unipolar. Kaum unilateralisme baru mengakui keunikan dunia unipolar yang kita diami dan menjadi tanda dari dimulainya politik luar negeri Amerika Serikat pasca perang dingin.

Memprediksi kemajuan dan kemunduran suatu bangsa merupakan hal yang sulit. Suara – suara yang mengemukakan kemunduran Amerika gagal memahami bahwa “revolusi industri ketiga” memberikan Amerika semacam “kesempatan kedua”. Amerika Serikat telah menjadi pemimpin dalam revolusi informasi blobal.

Tidak ada yang abadi dalam dunia politik. Seabad yang lalu, globalisasi ekonomi merupakan hal yang sulit menurut beberapa ukuran seperti halnya sekarang. Globalisasi ekonomi menjadi krisis, dan tahun terburuk dalah 1914 dan 1970. Masuk akal jika hal ini kembali terjadi. Sekarang pertanyaannya adalah, mampukah kita berbuat sesuatu yang lebih baik di abad ke 21 ini? Yogi Berra sudah mengingatkan kita untuk tidak membuat prediksi tentang masa depan, tapi kita tidak punya pilihan lain, karena masing – maisng kita sudah mempunyai gambaran mengenai masa depan. Saat

Ketika manusia terlibat, reaksi manusia terhadap prediksi itulah yang membuatnya tidak terjadi. Kita tidak bisa memprediksi masa depan, tapi kita bisa membuat gambaran yang teliti untuk menghindari beberapa kesalahan umum. Dengan analisis yang teliti, Amerika Serikat bisa membuat keputusan yang lebih baik mengenai cara melindungi warga negaranya,menyabarkan nilai, dan meminpin menuju dunia yang lebih baik selama beberapa dekade.

The source of American Power

Secara sederhana, power adalah kemampuan untuk mempengaruhi hasil yang diinginkan, dan jika dibutuhkan untuk mengubah perilaku pihak lain demi mencapai tujuan. Power juga bisa didefenisikan sebagai kepemilikan dari jumlah yang relatif besar dari beberapa elemen seperti populasi, wilayah, sumber daya alam, kekuatan ekonomi, kekuatan militer, dan stabilitas politik. Power dalam artian ini berarti sebagai kartu bernilai tinggi dalam permainan poker internasional.

Secara tradisional, ujian untuk great power adalah “kekuatan dalam berperang”. Perang merupakan permainan akhir dimana kartu – kartu politik internasioanl dimainkan dan perkiraan kekuasaan relatif dibuktikan. Setelah berabad – abad, dengan berkembangnya teknologi, sumber power juga mengalami perubahan. Sekarang dasar power sudah bergerak jauh dari penekanan terhadap kekuatan militer dan penaklukan. Hal yang merupakan paradoks disini adalah senjata nuklir yang menjadi salah satu sumber power. Perubahan kedua yang juga penting adalah berkembangnya nasionalisme. Penyebab ketiga adalah perubahan sosial yang terjadi pada great power.

Ketiadaan pejuang etik di era demokrasi modern berarti penggunaan kekerasan membutuhkan uraian justifikasi moral untuk menjamin dukungan (kecuali jika yang dipertaruhkan itu survival). Kasarnya, sekarang ini terdapat tiga tipe negara – negara di dunia, yaitu negara miskin yang industrinya tertinggal, negara dengan industri modern, dan negara maju. Penggunaan angkatan bersenjata merupakan sesuatu yang biasa di negara – negara tipe pertama, masih bisa diterima pada tipe kedua, tetapi toleransi pada tipe ketiga sangat kurang. Perang tetap mungkin terjadi, tetapi lebih tidak bisa diterima sekarang ini ketimbang seabad atau setengah abad yang lalu.

Pada akhirnya, sekarang ini penggunaan kekerasan oleh great power akan membahayakan perekonomian mereka. Richard Rosecrance menuliskan “di masa lalu, lebih murah untuk menaklukkan suatu negara melalui serangan dibanding mengembangkan hubungan ekonomi dan perdagangan dibutuhkan untuk memperoleh keuntungan dari pertukaran komersil ”. Sekarang ini kekuatan militer tidak memainkan peran dalam politik internasional. Revolusi informasi masih belum mengubah sebagian besar dunia. Dalam sejarah, kemunculan great power diiringi dengan kecemasan timbulnya krisis militer yang terkadang terjadi.

Geoekonomi masih belum menggantikan geopolitik. Untuk mengabaikan peran angkatan bersenjata, dan pemusatan keamanan akan seperti mengabaikan oksigen. Kekuatan militer masi bisa tetap memainkan peran politik penting diantara negara – negara maju.

Kekuatan ekonomi sekarang ini lebih penting dibanding masa lalu, dikarenakan peningkatan relatif biaya angkatan bersenjata, dan karena tujuan ekonomi terbayang pada nilai – nilai masyarakat maju. Tekanan pasar berbeda pada setiap negara. Sanksi ekonomi Amerika tidaklah memberi dampak yang besar. Sanksi ekonomi mungkin mengganggu, tapi tidak menghalangi pergerakan teroris sebagai aktor non negara. Kekuatan militer tetap penting dalam situasi tertentu, tapi menjadi sebuah kesalahan ketika berfokus terlalu sempit pada dimensi kekuatan militer Amerika.

Soft Power

Jika Amerika Serikat ingin tetap kuat, maka Amerika juga harus memberi perhatian pada soft power mereka. Hard power bisa bersandar pada bujukan atau ancaman, tapi terdapat cara – cara lain dalam menggunakan power. Suatu negara bisa meraih hasil yang diinginkannya dalam dunia politik karena negara lain mau mengikutinya, mengagumi nilai – nilainya, berusaha menyamai, dan menginginkan tingkat kesejahteraan dan keterbukaan yang sama. Menetapkan agenda di dunia politik dan menarik pihak lain untuk ikut sama pentingnya dengan memaksa mereka berubah melalui ancaman militer atau ekonomi. Segi power ini dinamakan dengan soft power. Ini mengajak masyarakat ketimbang memaksa mereka.

Soft power bersandar pada kemampuan untuk menetapkan agenda politik dengan jalan menentukan pilihan – pilihan bagi yang lain. Kemampuan untuk menyusun pilihan – pilihan cenderung diasosiasikan dengan sumber – sumber intangible power seperti budaya, ideologi, dan institusi yang menarik. Soft power tidak hanya sekedar pengaruh, tapi merupakan salah satu sumber pengaruh. Soft power juga lebih dari persuasi atau kemampuan untuk menggerakkan masyarakat dengan argumen. Ini merupakan kemampuan untuk menarik dan mengajak, dan daya tarik sering membawa pada tindakan meniru.

Soft power muncul dari bagian besar nilai – nilai kita. Pemerintah terkadang menemukan bahwa ini sulit untuk mengontrol dan menggunakan soft power. Amerika sangat kuat karena karena mereka bisa “menginspirasi mimpi dan keinginan pihak lain”. Soft power adalah sebuah kenyataan penting. Kedua jenis power ini (hard dan soft) saling berkaitan dan saling menguatkan. Keduanya merupakan bagian dari kemampuan untuk meraih tujuan dengan mempengaruhi perilaku pihak lain. Terkadang, sumber power yang sama bisa mempengaruhi keseluruhan spektrum prilaku dari paksaan menjadi ajakan. Hard power juga bisa digunakan untuk membangun kerajaan dan institusi yang melengkapi agenda untuk negara yang lebih kecil, tetapi soft power bukanlah sesederhana refleksi dari hard power.

Jika suatu negara bisa melegitimasi kekuasaannya di mata yang lain, maka hambatan untuk negara itu dalam mencapai tujuannya akan semakin sedikit. Jika kebudayaan dan ideologi suatu negara menarik, yang lain akan lebih berkeinginan untuk mengikuti. Jika suatu negara mampu membentuk aturan – aturan internasional yang konsisten dengan masyarakatnya, maka hal ini cenderung tidak akan dirubah. Jika suatu negara mampu membantu institusi yang mendorong negara lain untuk meneruskan atau membatasi aktivitas mereka dengan cara – cara yang disukai, maka biaya yang dibutuhkan tidaklah sebanyak cara – cara carrot and stick.

Singkatnya, mendunianya budaya suatu negara, dan kemampuannya untuk membentuk serangkaian aturan dan institusi yang baik yang berpengaruh pada area internasional atau sumber power penting. Bayangan soft power Amerika lebih besar ketimbang ekonomi dan aset militernya. Soft power Amerika bahkan menguasai kerajaan dimana matahari tak pernah tenggelam.

Soft power lebih dari sekedar kekuatan budaya, tetapi pemerintah tidak memiliki soft power seperti halnya hard power. Kebalikannya, banyak sumber – sumber soft power yang terpisah dari pemerintahan Amerika dan sebagiannya peka pada hasilnya. Power di era informasi global menjadi lebih tidak terukur dan tidak memaksa, secara khusus di negara – negara maju, tapi hampir di seluruh dunia bukanlah masyarakat maju dan itu merupakan batasan bagi transfomasi. Power di abad ke dua puluh ini bersandar pada percampuran sumber – sumber hard dan soft.

Balance Or Hegemony

Power Amerika hanyalah sebagian dari cerita. Bagaimana yang lain menanggapi power Amerika juga penting bagi pertanyaan stabilitas dan penguasaan di era informasi global. Perang telah menjadi sesuatu yang tetap dan instrumen penting dalam keseimbangan kekuasaan multipolar. Banyak kawasan didunia dan periode dalam sejarah yang telah melihat stabilitas dibawah hegemoni.

Istilah “balance of power” terkadang digunakan dalam cara – cara yang bertentangan. Kenneth Waltz mengatakan bahwa negara akan bergerak ke arah keseimbangan. Kondisi dari politik internasional sekarang ini tidaklah alami.

Kesenjangan kekuasaan bisa menjadi sumber kedamaian dan stabilitas. Bagaimanapun power itu diukur, beberapa teoritis mengatakan bahwa distribusi power yang merata diantara negara – negara besar jarang terjadi dalam sejarah, dan usaha untuk menjaga keseimbangan sering berakhir dengan perang. Kesenjangan kekuatan sering membawa pada perdamaian dan stabilitas karena hanya terdapat sedikit poin dalam mendeklarasikan perang terhadap negara – negara besar. Tindakan negara – negara terhadap power yang dimiliki oleh Amerika tergantung pada bagaimana Amerika bertindak sebagai sumber power bagi pesaing potensial.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s