Is America Primacy a Concern? If so, How and Could It be Contained?


Berakhirnya Perang Dunia II, yang ditandai dengan menyerahnya Jepang tanpa syarat pada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, membawa kemenangan mutlak bagi sekutu. Tidak lama setelah berakhirnya PD II, dibentuklah PBB pada tanggal 24 Oktober 1945, yang dipelopori oleh negara pemenang perang, yaitu Republik Rakyat China, Prancis, Rusia, United Kingdom, dan Amerika Serikat, dimana mereka menduduki posisi anggota tetap pada Dewan Keamanan PBB, dan memiliki hak veto.

Berakhirnya PD II segera disusul dengan perang dingin yang tak lain adalah perang ideologi dan perlombaan senjata yang terjadi di antara dua negara anggota PBB, lebih tepatnya antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet (Rusia). Perang dingin antara kedua kubu berlangsung selama lebih kurang empat puluh lima tahun.

Berakhirnya perang dingin karena bubarnya Uni Sovyet, yang dikarenakan oleh faktor dalam negeri, dan ditandai dengan runtuhnya tembok berlin yang membelah Jerman menjadi dua bagian, menjadikan Amerika Serikat sebagai satu – satunya kekuatan di dunia, sehingga peta politik dunia cenderung bergeser ke arah unipolar. Amerika menguasai tiga sektor utama yang dibutuhkan untuk kekuasaan, yaitu politik, ekonomi dan militer.

Kekuasaan hegemoni AS pasca perang dingin tidak selalu berjalan mulus, AS mengalami goncangan ekonomi di awal tahun 1970 karena embargo minyak yang dilakukan oleh negara – negara Arab kepada AS. Pada awal tahun 1990 AS menginvasi Irak untuk pertama kalinya, dan ini menjadi sebuah perhatian dunia internasional. Di tahun 2001, AS mendapat goncangan keamanan domestik dengan serangan bom pada gedung WTC, dan Pentagon. Serangan terhadap dua bangunan ini dijadikan alasan oleh AS untuk menyerang Irak dan Afghanistan, karena ditengarai kedua negara ini merupakan basis pergerakan teroris internasional.

Tindakan AS menyerang Irak sudah kontroversial sejak awal, banyak kubu yang setuju, tapi lebih banyak lagi yang menolak, bahkan belakangan ini AS juga mendapat perlawanan dari dalam negeri sendiri. Pada akhirnya, tindakan memerangi Irak dan Afghanistan, serta keberpihakan AS pada Israel mendatangkan kritikan keras dari dunia internasional.

Krisis finansial global membawa pukulan bagi sektor perekonomian AS, yang memang sudah mulai goyah semenjak embargo minyak di tahun ‘70 an. Sekarang ini, AS tercatat sebagai negara pengutang terbesar di dunia. Krisis ekonomi yang dimulai dari jatuhnya harga saham di Wall Street, diikuti dengan bangkrutnya perusahaan besar seperti General Motor dan Lehmann Brothers, karena macetnya kredit perumahan di AS, meluas ke seluruh dunia, ditandai dengan melemahnya dolar, dan lesunya pasar saham di berbagai negara.

Jika dilihat konstalasi politik dunia dengan lebih cermat, AS memang satu – satunya negara super power di dunia setelah perang dingin, tapi bukan berarti tidak ada negara lain sebagai penyeimbang. Negara – negara yang tergabung dalam European Union (EU) seperti Perancis, Jerman dan UK merupakan negara yang pengaruhnya cukup besar di dunia, walaupun pengaruh negara ini tidak seglobal pengaruh AS. Negara – negara ini merupakan kapitalis di zaman imperialisme pada abad ke 19.

Setelah krisis finansial global yang melanda dunia pada tahun 2008 yang lalu, AS bukan lagi penguasa tunggal ekonomi dunia. China, India dan Jepang muncul sebagai negara yang berhasil melewati krisis, dan menjadi kekuatan ekonomi baru, begitu juga dengan EU, yang walaupun ikut terimbas krisis, tapi nilai mata uang Euro lebih stabil dibandingkan dengan dolar Amerika. Dengan bangkitnya negara – negara Asia Timur, dan keberadaan EU, saya kira konstalasi politik dunia mulai bergeser ke arah multi polar.

Dari paparan yang telah saya berikan diatas, saya kira sekarang ini kekuasaan AS bukanlah sesuatu yang mengkhawatirkan lagi. Tidak dapat disangkal bahwa AS berusaha keras untuk mempertahankan hegemoninya. Sekarang ini, AS masih menguasai sektor perekonomian, politik dan militer. Tapi, AS bukanlah pemain tunggal di kancah politik dunia.

Sektor ekonomi AS belum sepenuhnya membaik selepas krisis tahun 2008, walaupun pemerintahan presiden Obama telah mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk merangsang perekonomian AS, tapi hal itu belum menampakkan hasil yang signifikan. Hutang AS membengkak dan sudah melampaui angka 10 triliun USD, dan jumlah ini terus bertambah dengan penjualan obligasi yang dilakukan pemerintah.  Ini membawa AS menjadi negara penghutang terbesar di dunia.

Sementara itu, di bagian timur Asia, China berhasil melewati krisis, dan menggeliat menjadi kekuatan baru perekonomian dunia, dengan total GDP terbesar di dunia, dan angka pertumbuhan ekonomi mencapai dua digit. Pertumbuhan ekonomi China diprediksikan akan terus meningkat, dan China juga diprediksikan menjadi pemimpin baru perekonomian dunia bersama – sama dengan India dan Jepang.

EU walaupun mereka mengalami dampak yang cukup signifikan dari krisis 2008, tapi mata uang mereka (Euro) lebih stabil dibandingkan AS, sehingga saya memprediksikan bahwa perekonomian mereka lebih kuat dibanding perekonomian AS sekarang ini, sebagai tambahan, mayoritas negara yang tergabung dalam EU adalah negara maju yang tergabung dalam forum G – 8 dan G – 20.

Saat krisis kemaren, banyak negara yang mengurangi ketergantungan mereka terhadap dolar amerika, karena nilai tukarnya yang melorot tajam, dan menggantinya dengan mata uang lain yang dianggap lebih stabil dalam melakukan berbagai transaksi internasional, seperti yang dilakukan oleh Brazil dan Argentina.

Ditilik dari bidang politik, banyak kebijakan politik dalam negeri suatu negara yang dipengaruhi oleh AS, baik secara langsung melalui tidak langsung, terutama negara – negara yang ikut serta dalam lembaga bentukan “Bretton – Woods” seperti IMF, WB, dan WTO. Amerika, sebagai negara pendonor utama, mempunyai peran yang sangat menentukan pada lembaga – lembaga itu. Negara – negara yang menjadi anggota lembaga itu harus menjalankan kewajibannya sebagai anggota untuk menerapkan semua keputusan yang dibuat oleh lembaga itu di dalam negerinya, dimana keputusan – keputusan dari lembaga – lembaga itu dibentuk atas persetujuan AS, dan tentu aja ada kepentingan AS di dalamnya. Tetapi peran negara – negara pendonor lainnya seperti UK, Jerman, Prancis, dan Italy tidak bisa dinafikan begitu saja, mereka juga turut andil dalam setiap keputusan yang diambil oleh lembaga – lembaga tersebut.

Sebagai kekuatan baru dalam konstalasi politik internasional, China dan Jepang mempunyai bargaining position yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga keberadaan mereka juga diperhitungkan dalam pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan – kebijakan internasional.

Dalam bidang militer, kekuatan militer AS hingga saat ini tidak tertandingi, baik dari segi teknologi persenjataan maupun jumlah tentara. Tapi, militer EU tidak kalah kuatnya. UK berada di urutan kedua untuk urusan persenjataan, disusul Jerman dan Prancis. Ada satu pihak lagi yang tidak bisa dikesampingkan untuk urusan persenjataan, yaitu Rusia, yang menempati posisi ke tiga di dunia setelah AS dan UK.

China, telah meningkatkan anggaran untuk memperkuat pertahanannya, dan menurut data yang saya temukan, ditahun 2004 China mengeluarkan 65,4 miliar USD untuk anggaran pertahanan, dan angka ini terus meningkat tiap tahunnya. Selain itu, China juga menjalin kerjasama keamanan dengan Rusia, maka pantaslah rasanya disini saya mengatakan bahwa kekuatan China di bidang militer perlu diperhitungkan.

Selain faktor diatas, pengaruh budaya suatu negara terhadap negara lain juga menjadi indikator hegemoni. Budaya AS sudah merambah dunia melalui dunia perfilman mereka, sehingga sangat mudah menemukan budaya AS dimanapun di dunia ini, bisa dilihat melalui cara berpakaian, kebiasaan, dan gaya hidup.

Disadari atau tidak, budaya China dan Jepang juga sudah mulai menyebar ke berlahan dunia lainnya, melalui hiburan, cara berpakaian, prinsip yang ulet dan tekun dalam bekerja, telah merambah ke seluruh dunia. Khusus untuk China, faktor lain penyebaran kebudayaan China adalah keturunan bangsa China yang berada di seluruh dunia, dan mereka tidak melupakan kebudayaan dan adat istiadat nenek moyangnya.

Berdasarkan kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki oleh negara – negara EU, China, dan Jepang, maka mereka bisa mengimbangi hegemoni AS, sehingga kekuasaan dan dominasi dunia tidak hanya dikuasai oleh satu kekuasaan tunggal yaitu AS, tetapi ada kekuasaan lain yang bisa menetralisir hegemoni AS, sehingga hegemoni AS tidak lagi menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.

Berkaca dari apa yang telah saya paparkan diatas, maka saya mengajukan sebuah pertanyaan untuk didiskusikan sebagai penutup essay ini, yaitu, mampukah Indonesia memainkan peranan dalam konstalasi politik dunia yang baru????

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s