The Asian Debt – and – development Crisis of 1997 – ? Causes and Consequences


By: Robert Wade

I. Introduction

Bagaimana Asia bisa terjebak dalam perangkap hutang? Devaluasi Bath Thailand pada Juli 1997 menimbulkan gelombang instabilitas finansial yang menyebar ke semua negara Asia Tenggara, Taiwan, Hong Kong, Korea, Russia, Brazil, Australia, dan Selandia Baru. Krisis utang ini kemudian berkembang menjadi krisi pembangunan. Kehilangan keamanan dan kemamouan produksi merupakan tragedi yang kekejamannya hampir menyamai perang.

Barat mempunyai dua interpretasi terhadap krisis ini, yang pertama adalah “sekaratnya negara – negara kapitalis Asia”, dan yang kedua adalah “kepanikan yang memicu deflasi hutang dalam sistem regulasi”.

II. The Death Throes of Asian State Capitalism

Krisis, berdasarkan pandangan pertama, mencerminkan intervensi pemerintah yang berlebihan di pasar, khususnya di pasar uang. Alan Gresspan mengatakan dalam New York Economics Club di awal Desember 1997:

“Krisis yang sedang terjadi sepertinya untuk mempercepat pembongkaran sisa dari sistem investasi langsung pemerintah di banyak negara – negara Asia, yang memainkan peran kunci keuangan, dalam menjalankan fungsi objektif negara. Produksi langsung pemerintah, keuangan dengan pinjaman langsung perbankan, tidak bisa menyesuaikan dengan cepat bentuk dari perubahan berkelanjutan permintaan pasar untuk kebutuhan domestik atau ekspor.”

Gresspan juga mengatakan bahwa, salah satu akibat utama dari krisis Asia ini adalah bahwa dunia bergerak ke arah bentuk pasar bebas kapital yang dikonstruksikan oleh Barat.

Koresponden International Herald Tribune, di akhir Januari 1998 mengatakan bahwa kejatuhan tiba – tiba Asia, mulai dilihat sebagai suatu akhir dari sistem politik dan ekonomi yang berbasiskan merkantilisme. IMF berasumsi bahwa krisis yang terjadi mencerminkan tidak adanya landasan utama di pasar Asia.

Disisi lain, bagaimana interpretasi kemudian menjadi kenyataan? Krisis yang terjadi di Asia Timur dan Tenggara umumnya sektor swasta. Hutang telah didapatkan oleh sektor swasta dan peminjam perorangan, tanpa arahan yang memadai dari pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi di daerah ini cepat, dan simpanan sangat tinggi, tapi terdapat rintangan internal yang serius. Perekonomian terus terikat dalam dunia industri ekonomi sebagai pekerja. Dalam waktu singkat, orang – orang terampil menjadi sangat sedikit, dan berada dalam kondisi yang sangat genting. Sarana wilayah sangat tidak memadai, dengan pemadaman listrik, kelumpuhan transportasi, dan mahalnya air. Dalam waktu singkat, masalah serius perekonomian terbentuk. Dalam laporan tahunan IMF, disebutkan bahwa diperlukan reformasi di sektor finansial. Intepretasi keadaan sekarat ini jatuh dalam dua detik.

III. Investor Pullout/Debt Deflation in A Sound but Underregulated system

Jeffrey Sach mengatakan bahwa alasan utama dari krisis Asia adalah kepanikan sektor finansial itu sendiri. Asia butuh reformasi signifikan di bidang keuangan. Fundamental Asia memadai untuk mencegah kontraksi ekonomi. Asia jatuh bukan karena krisis fundamental, tapi karena penarikan pinjaman jangka pendek.

Krisis ini kembali mengulang perdebatan mendasar di lingkup nasional dan internasional, dan juga telah memperlihatkan ketidakcocokan dalam interaksi antara sistem finansial Asia dan Barat.

IV. History of Crisis

Krisis dimulai dari penimbunan modal bergerak di kawasan Asia Timur dan Tenggara, kemudian arus keluar modal pada Juli 1997. Arus keluar ini menimbulkan ketakutan dan kawasan berjalan dalam skala yang telah meluncurkan deflasi hutang, yang pada gilirannya merusak struktur masyarakat.

  • The capital push into Asia

Titik awalnya adalah Plaza Accord di tahun 1985, yang disebabkan naiknya nilai yen terhadap USD. Perusahaan – perusahaan Jepang mencari lokasi tempat pabrik murah dan berbasiskan USD. Asia Tenggara adalah pilihan yang jelas, karena dekat dengan Jepang, dengan nilai tukar yang ditetapkan terhadap USD, tenaga kerja yang murah dan terdidik. Dorongan dari pemerintah Jepang membawa pada ledakan investasi dan ekspor ke Asia Tenggara. Peningkatan ekspor mendorong pinjaman, dan investasi asing langsung.

Sementara itu, Jepang mengalami penggelembungan stok pasar dan real estate di akhir 1980 an. Saat gelembung itu akhirnya meledak di tahun 1990 an, meninggalkan hutang yang besar dalam sistem perbankan, yang merupakan akar dari pertumbuhan Jepang yang sangat lambat. Dengan konsumsi yang terdepresi, Jepang menjalankan arus surplus yang besar. Ekspor modal melipat gandakan pinjaman Jepang, dan investasi asing langsung di Asia.

Situasi kelebihan likuiditas diseluruh dunia, dan tingkat inflasi yang sangat rendah di daerah asal, para pemberi pinjaman di negara maju bersiap – siap memberikan pinjaman ke Asia Timur dan Tenggara, dengan tarif nominal yang bahkan lebih rendah dari biaya pinjaman domestik, dan peminjam di Asia Timur dan Tenggara juga telah bersiap untuk pinjaman luar negeri, untuk mengambil keuntungan dari tarif nominal yang lebih rendah. Pinjaman ke kawasan Asia Timur dan Tenggara didasarkan pada asumsi bahwa nilai tukar akan tetap.

  • Capital liberalization

Negara – negara Asia (kecuali Jepang and KorSel) menjalankan rezim nilai tukar yang ditetapkan terhadap USD. Hampir di semua negara Asia Timur dan Tenggara, nilai tukar dikendalikan. Inflasi agak lebih tinggi dibanding Jepang dan USA, tapi pertumbuhan produksi tinggi.

Negara – negara ini berjalan dalam deregulasi finansial radikal, termasuk mendekati penghilangan batasan dalam arus masuk dan keluar modal bergerak. Perusahaan perbankan dan keuangan berjalan di banyak negara Asia Timur dan Tenggara sebagai bisnis keluarga.

Keuntungan tinggi untuk mereka dengan banyak akses kredit asing murah, adalah alasan utama perusahaan dan perbankan nasional dan internasional, menekan pemerintahan untuk menjalankan deregulasi finansial. Korea menyatakan bahwa deregulasi finansial adalah suatu kebijakan objektif yang penting.

  • High saving and high debt

Simpanan domestik di Asia Timur dan Tenggara adalah sebesar sepertiga jumlah GDP, dan ini merupakan tertinggi di dunia. Asia Timur dan Tenggara adalah kawasan dengan pemasukan rendah, dimana modal dalam artian lebih “berlimpah” dari kawasan berpendapatan lebih tinggi seperti Amerika Utara dan Eropa.

Simpanan terbesar datang dari rumah tangga. Resiko rumah tangga di Asia adalah pilihan untuk menyimpan dalam bentuk deposito bank ketimbang diinvestasikan sewajarnya. Negara – negara ini cenderung punya level deposito bank yang tinggi, atau GDP (a “deep” banking system).

Beberapa simpanan di investasikan di luar negeri, tapi kebanyakan di investasikan di negara asal. Oleh karena itu, sistem mengalami bias terhadap tingginya rasio hutang perusahaan yang wajar, sementara yang lain memiliki simpanan yang tinggi.

Perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi dari sewajarnya rentan terhadap goncangan yang mengganggu arus uang atau suplai modal. Hutang mensyaratkan tingkat ketetapan pembayaran, sedangkan keadilan menuntut pembagian keuntungan.

Oleh karena itu, bank dan perusahaan perlu bekerja sama untuk menyangga goncangan sistem, dan pemerintah harus mendukung kerjasama itu. Kebutuhan dukungan pemerintah memberi pemerintah instrumen yang kuat untuk mempengaruhi tindakan perusahaan dan bank.

  • Preconditions for the crisis

Berikut adalah kondisi sebelum terjadinya krisis Asia:

a.       Tingkat simpanan domestik yang tinggi,yang dilanjutkan dari rumah tangga kepada perusaan melalui bank, menciptakan struktur hutang domestik yang dalam.

b.      Kebijakan nilai tukar yang ditetapkan (fixed)

c.       Liberalisasi pasar modal di pertengahan 1990 an, dan deregulasi sistem finansial di waktu bersamaan tanpa penggantian sistem kontrol regulasi

d.      Cepatnya arus masuk aset finansial internasional, dari kelebihan likuiditas di Jepang dan Eropa, telah menciptakan struktur hutang luar negeri yang dalam.

  • Towards the tipping point

Pergerakan menuju krisis dimulai dengan tekanan inflasi. Karena tingginya simpanan, maka inflasi domestik juga lebih tinggi dari negara mitra dagang, dan mengurangi prospek untuk orientasi ekspor manufaktur. Investor berinvestasi di Asia Tenggara di bidang real estate.

  • Thailand over the brink

Terjadi ledakan di sektor properti swasta Thailand pada tahun 1995. Pasar properti layaknya pasar uang, dimana sedikit penarikan modal bisa menimbulkan pengaruh yang besar, dan menyebabkan sistem perbankan dalam bahaya, dan membuat para penabung menarik uang mereka.

Saat pasar properti hancur, ini berakibat pada seluruh sektor finansial dan pada pasar nilai tukar asing. Pertumbuhan ekonomi dan ekspor melambat dengan tajam. Di awal Juli 1997, bath Thailand mengambang dan merosot. Agustus 1997, IMF masuk dengan paket bantuan dan “secara kondisional” mengambil tindakan, termasuk membekukan banyak perusahaan finansial. Tindakan pembekuan inilah yang kemudian menghasilkan gelombang kepanikan pada para penabung.

  • The contagion

Masalah real estate di Thailand mempunyai efek finansial yang menyebar.

  • Refocusing of risk

Setelah guncangan devaluasi bath Thailand, investor dengan cepat melakukan evaluasi ulang resiko, dan fokus pada faktor – faktor resiko yang lain, dan memusatkan perhatian pada resiko mikro ekonomi.

Dari perspektif baru ini, semua mata uang Asia Tenggara tiba – tiba terlihat rentan. Semua kegiatan perekonomian mempunyai ketergantungan berlebihan yang mencolok terhadao hutang dolar jangka pendek, dimana pembayarannya terlihat bermasalah jika nilai tukar jatuh. Sebagai reaksi terhadap tekanan penjualan, Thailand diikuti Malaysia menerapkan sistem nilai tukar mengambang.

  • Indonesia and Thailand

Indonesia yang kemudian juga menerapkan nilai tukar yang mengambang, menyebabkan investor dan perusahaan lokal berpikiran bahwa devaluasi sedang terjadi di Asia Tenggara. Pengelola keuangan dunia mulai berfikir bahwa Asia Tenggara adalah tempat yang berbahaya.

Pengumuman mengenai paket bantuan IMF untuk Thailand pada Agustus 1997 menaikkan kepercayaan, dan memperlambat penyebaran, karena ini terlihat merupakan indikasi usaha bersama internasional. Pinjaman IMF ke Thailand mewajibkan reformasi struktural dan institusional yang tidak terkait erat dengan mengembalikan kemampuan Thailand untuk membayar hutang, yang mengisyaratkan pada para investor internasional bahwa keseluruhan ekonomi berada pada masalah yang lebih parah dari apa yang mereka asumsikan.

  • Taiwan, Hong Kong and Korea

Devaluasi mata uang terjadi pada pertengahan Oktober. Ini merupakan guncangan, karena sebelumnya Taiwan dikenal karena nilai tukarnya tinggi. Taiwan bertindak sebagai jembatan api antara Asia Tenggara dengan Timur. Setelah Taiwan, maka konsep “krisis Asia” berlaku. Para pemilik modal mulai menjual dolar Hong Kong, dan won Korea.

  • Indonesia

Ketika Indonesia dan IMF mengumumkan program finansial darurat, pemerintah Singapura dan Jepang ikut serta atas nama rupiah. Kemudian datang laporan bahwa kondisi kesehatan presiden Indonesia saat itu, Soeharto, menurun secara tajam. Laporan ini mendorong para elit kaya China menjual rupiah dan menyimpan aset yang mereka miliki. Hal ini menyebabkan rupiah terus merosot.

  • Korea

Pada Oktober dan November 1997, seluruh kawasan diliputi kepanikan. Investor berebutan keluar, memicu kejatuhan won. Perbankan Korea telah meminjam dana asing berbunga rendah, dan menginvestasikannya pada bon “sampah”, dengan penghasilan dan juga resiko tinggi, dalam cara yang spekulatif, dan selalu berasumsi bahwa nilai tukar akan ditetapkan. Skala krisis bisa dilihat dalam pergerakan modal.

  • The IMF’s Korea strategy

Tujuan dari pinjaman finansial rencana restrukturisasi adalah untuk membuat sistem finansial Korea berjalan seperti Barat. Permasalahan institusi finansial diakhiri, atau kembali diberi modal. Pemerintah diwajibkan untuk tidak mengintervensi keputusan peminjaman dari bank – bank komersial, dan menghapus semua pinjaman langsung pemerintah.

  • The downward spiral

Tingkat kebutuhan yang lebih tinggi, dan penurunan permintaan domestik yang disyaratkan oleh IMF, berujung pada kebangkrutan perusahaan. Memenuhi standar kecukupan modal perbankan Barat membawa pada rasio hutang, dan pemotongan pinjaman dengan tajam, mengakibatkan lebih banyak perusahaan yang bangkrut. Goncangan finansial dan kegelisahan mengakibatkan aliran keluar modal, alih – alih aliran masuk, yang diharapkan oleh IMF.

Terlihat sangat tidak bijak bagi IMF untuk mendesak perusahaan untuk lebih bebas meminjam modal internasional tanpa koordinasi dengan pemerintah. Ini justru akan membuat negara lebih rentan dalam aliran modal. Pendekatan IMF sepertinya memunculkan permasalahan sosial yang besar, jauh sebelum adanya penurunan signifikan hutang. Ini karena kondisi jangka pendek yang tidak bisa diramalkan dijalankan oleh pergerakan modal.

V. Turning Points

Banyak laporan logis dari krisis menyatakan bahwa keadaan ini tak dapat dihindari. Namun faktanya bisa menjadi berlainan jika beberapa hal berikut dilakukan:

ü  Jepang menangani masalah perbankan lebih cepat dengan menyokong keseimbangan bank melalui program rekonstruksi hutang atau melebihkan stok untuk dijual, maka perbankan Jepang tidak akan membagi sistem keuangan mereka dengan Korea dan peminjam lain pada musim gugur tahun 1997

ü  Pemerintah Jepang menjanjikan 10 milliar dolar dalam paket IMF untuk Thailand, dan bukannya 4 milliar dolar, maka kepercayaan mungkin bisa dipulihkan

ü  Kongres USA tidak melakukan pembatasan setelah krisis Meksiko, dan tidak menolak menyediakan lebih banyak dana bagi IMF pada 1997, USA mungkin bisa memancing sumber daya lainnya.

ü  Negara – negara meliberalisasi sistem finansial secara perlahan, dan menolak tekanan Barat untuk liberalisasi secara cepat, maka kelebihan pinjaman domestik dan kerentanan terhadap arus keluar uang panas akan bisa dikontrol.

ü  Pemimpin politik negara – negara berkembang lebih siap untuk memeriksa investasi real estate liar, dan spekulasi dalam junk bond, maka kerentanan juga akan lebih rendah.

ü  Adanya sesuatu seperti “sand in the wheels” dalam sistem finansial internasional, maka proses konstruksi krisis akan lebih lama.

ü  Jika IMF berjalan sesuai mandat untuk membantu negara – negara menanggulangi hutang jangka pendek, dan mendapatkan kembali pasar modal internasional, maka keadaan tidak akan menjadi separah ini.

VI. Capital Opening and The Wall Street – Treasury – IMF Complex

Tindakan paling tidak bertanggung jawab di keseluruhan krisis adalah perhitungan liberalisasi modal tanpa adanya kerangka regulasi. Kesalahan terletak pada pemerintahan nasional, dan organisasi internasional.

Amandemen pasal kesepakatan IMF menyatakan bahwa negara anggota wajib menghapus kontrol terhadap modal dan menyetujui secara penuh mengenai nilai modal yang bisa ditukar. Krisis Asia didorong oleh siapa yang meraih keuntungan dari kejatuhan tiba – tiba pemerintahan Asia, dan dari kesempatan untuk meraih kontrol atas perusahaan – perusahaan Asia, dengan harga rendah. Krisis ini merupakan hal bagus institusi keuangan multilateral, karena mereka meraih posisi penting diantara para pemilik dan pengatur modal.

VII. The Future

a. Asia

Terdapat empat rangkaian dari krisis ini, yaitu: jatuhnya nilai mata uang, banyaknya jumlah perbankan yang gagal dan perusahaan – perusahaan yang bankrut akibat dari tingginya biaya jasa hutang luar negeri yang tidak dibatasi, terjadinya resesi domestik, dan yang terakhir reaksi politik terhadap kemerosotan, kegelisahan masyarakat, dan sentimen anti asing.

Akan sulit untuk memperbaiki kepercayaan antara pemerintahan, pebisnis, perbankan, dan antara perusahaan asing dengan perusahaan domestik, yang telah menjadi model kekuatan Asia. Di lain pihak, krisis berarti mobilisasi simpanan melalui pasar stok sepertinya menjadi sebuah pilihan. Respon kawasan Asia terhadap krisis lemah, memperlihatkan lemahnya struktur regional. Krisis Asia tahun 1997 memperlihatkan kekosongan kekuasaan di Asia, dengan ketiadaan negara – negara utama yang mau atau mampu untuk bertindak.

b. The international financial regimes

IMF telah meraih peran sentral, tapi dalam waktu singkat dilakukan penelitian cermat, dan menyisakan pertanyaan terhadap peran IMF: apakah IMF mendorong para pemberi pinjaman, dan peminjam menjadi ceroboh, dan percaya akan dibantu dengan kerugian yang sedikit; apakah IMF mendorong pengrusakan moral, seperti yang banyak dinyatakan para kritikus?

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s