Gerakan Sosial Global untuk Lingkungan


Gerakan sosial, secara umum diartikan sebagai sebuah gerakan yang menuntut perubahan dari keadaan yang saat ini dianggap mapan, dimana tujuan akhirnya adalah membentuk tatanan sosial yang lebih baik. Istilah social movements pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Jerman, Lorenz von Stein, dalam bukunya History of the French Social Movement from 1789 to the Present”(1850). Gerakan sosial global merupakan gerakan sosial yang mengubah masalah (isu) lokal menjadi isu trans nasional (lintas negara) dalam rangka untuk mengubah tata kelola dunia sekarang ini menjadi tatanan yang lebih baik lagi.

Belakangan ini, banyak sekali muncul gerakan sosial yang sifatnya lokal, maupun global, dimana inti dari setiap pergerakan itu adalah menuntut perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satu gerakan sosial yang sifatnya global adalah gerakan untuk melindungi lingkungan dari kerusakan yang lebih parah, yang dikenal dengan  “Environmental Movements”

Awal gerakan lingkungan modern adalah pada abad ke 19 ketika Eropa dan Amerika Utara membongkar biaya dari pengabaian lingkungan, khususnya penyebaran penyakit, polusi air dan udara, tetapi baru setelah Perang Dunia II kepedulian yang lebih besar terhadap lingkungan muncul.

Gerakan ini dijalankan oleh semua golongan, mulai dari masyarakat biasa, ilmuan, kaum profresional, potitisi, kaum ekstrimis, bahkan anak – anak pun ikut dalam gerakan ini. Tahun 1972 adalah tahun dimana isu tentang lingkungan global dibicarakan untuk pertama kalinya dalam konferensi PBB.

Selama 20 tahun belakangan ini, isu tentang lingkungan menjadi sesuatu yang paling sering diperbincankan. Semakin parahnya isu lingkungan, semakin banyak  muncul gerakan perlindungan lingkungan, dan konferensi – konferensi yang digelar terkait dengan isu – isu pemanasan global. Konferensi yang diadakan tidak hanya konferensi yang diadakan oleh PBB sebagai organisasi terbesar dunia, tapi juga konferensi yang digelar oleh gerakan grassroots dan kelompok kepentingan yang memiliki perhatian pada masalah lingkungan.

Isu lingkungan diidentikkan dengan pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi. Faktor kedua hal ini, seperti yang sama – sama kita ketahui adalah meningkatnya emisi karbon dan gas rumah kaca yang melobangi lapisan ozon.

Perubahan cuaca bisa kita rasakan dari hari ke hari, perubahan cuaca yang terjadi sudah menjadi bencana. Beberapa orang meninggal dunia di Amerika dan India karena cuaca yang sangat ekstrim. Jumlah es di kutub berkurang secara drastis yang mengakibatkan kenaikan volume lautan, dan dibeberapa tempat terjadi ketidakjelasan cuaca. Contohnya saja negeri kita sendiri, Indonesia. Beberapa tahun belakangan ini, pergantian musim di Indonesia tidak jelas lagi, dan dibeberapa daerah yang dulunya berhawa dingin, tidak lagi terasa seperti itu.

Selama ini, pemerintah – pemerintah negara didunia hampir tidak melakukan apapun untuk mengerem laju pemanasan global dan perubahan iklim. Mereka menghadiri ratusan konferensi yang digelar tiap tahunnya, dan menandatangani ratusan agreements, tapi itu semua hanya sebatas tindakan normatif, dan praktek nyata dari aksi perlindungan lingkungan belum bisa kita lihat.

Pemerintah Indonesia sudah punya gerakan untuk mengerem laju pemanasan global melalui gerakan satu orang satu pohon (one man one tree), tapi dampak dari gerakan ini belum terasa, hal ini mungkin dikarenakan oleh kompleksitas masalah di negeri ini, terutama masalah perekonomian dan masyarakat. Tiap tahun jumlah hutan di Indonesia berkurang akibat adanya pembalakan liar. Dalam hal ini pelaku tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Masyarakat melakukan hal ini karena desakan ekonomi. Jika pemerintah bisa menyediakan penghidupan yang layak bagi seluruh masyarakat seperti yang diamanatkan oleh UUD’45, saya yakin tidak akan ada oknum yang mau merusak lingkungan.

Gerakan perlindungan lingkungan tidak hanya muncul di satu negara saja, tapi sudah terjadi hampir disemua negara dunia, sehingga menjelma menjadi gerakan sosial global dibidang lingkungan. Gerakan yang dipelopori oleh orang – orang yang peduli lingkungan ini, seperti gerakan sosial global lainnya, mempunyai kekuatan melalui networking dan informasi yang mereka punya.

Mereka menggunakan kekuatan mereka untuk mempengaruhi proses politik melalui aksi – aksi lobi, mengadakan berbagai kegiatan dan edukasi dalam rangka melindungi sumberdaya alam dan ekosistem, demi masa depan generasi mendatang.

Aksi – aksi ekstrim yang dilakukan oleh GreenPeace, WWF, dan kelompok kepentingan lain yang memfokuskan diri pada pergerakan perlindungan lingkungan merupakan contoh aksi nyata yang dilakukan oleh orang – orang yang benar – benar peduli lingkungan dan memikirkan generasi mendatang. Tak jarang dalam aksinya mereka ditangkap karena dianggap melanggar hukum.

Kita, sebagai seorang mahasiswa, sudah cukup mampu untuk memutuskan apa yang akan kita lakukan untuk berpartisipasi dalam gerakan penyelamatan bumi ini melalui ilmu yang sudah kita dapatkan selama ini. Apakah kita hanya akan menunggu pemerintahan dunia melakukan sebuah tindakan kolektif untuk melindungi lingkungan, terjun langsung dalam aksi itu, atau malah hanya duduk menonton dunia ini bergerak ke arah yang semakin buruk dari sebelumnya.

Jika kita benar – benar peduli terhadap lingkungan, kita bisa memulai sebuah gerakan sosial untuk melindungi bumi ini. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar. Jangan tunggu orang lain melakukannya, jika kita benar – benar peduli terhadap orang – orang yang akan hidup lima puluh tahun lagi. Jika kita benar – benar peduli terhadap generasi penerus kita.

Untuk melalukan sesuatu tidaklah selalu dimulai dengan hal – hal besar, melainkan dimulai dengan sebuah langkah kecil, disertai niat dan keinginan untuk mengubah keadaan yang sedang berlangsung ini.

Aksi perlindungan lingkungan itu dimulai dari hal – hal yang sangat kecil, dan mungkin merupakan sesuatu yang dianggap tidak penting. Mulailah dari diri kita sendiri. Mulailah dengan menghemat pemakaian air, menghemat pemakaian listrik, menanam bunga dan berbagai tanaman disekitar rumah, memakai deterjen yang tidak terlalu banyak mengandurng unsur natrium, mengurangi intensitas pemakaian kendaraan bermotor, berhenti merokok, dan hal – hal kecil lainnya.

Jika kita telah melakukannya dengan baik, maka jadikanlah diri kita contoh, dan ajaklah lingkungan terdekat untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang telah kita lakukan. Tindakan ini kemudian akan membesar seperti bola salju, dan kemudian akan membentuk sebuah gerakan. Ingatlah bahwa sekecil apa pun yang kita lakukan saat ini akan memberikan dampak terhadap masa depan.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s