Constructivism


Constructivism

(Christian Reus – Smit dalam Theories of International Relations, 3e hal 188 – 212)


Selama tahun 1980, terdapat dua debat structural diantara para sarjana. Yang pertama adalah antara neo realist dan neo liberal, keduanya mencari untuk mengaplikasikan ilmu dari teori ekonomi rasionalis pada hubungan internasional. Yang kedua adalah antara rasionalis dan teori kritik. Ini menantang epistimologi, metodologi, ontologi dan asumsi normative dari neo realisme dan neo liberalisme, dan terlebih dulu menuduh teori kritik hanya punya sedikit substansi untuk berbicara tentang ‘dunia nyata’ hubungan internasional

Sejak berakhirnya perang dingin, perdebatan digantikan dengan perdebatan antara rasionalis dan konstruktivis, serta antara konstruktivis dan teori kritik. Katalisatornya adalah munculnya pendekatan konstruktivis baru dalam teori internasional.

Karakter konstruktivis adalah penekanan pada pentingnya norma, layaknya struktur material, pada peranan identitas dalam membentuk sikap politik dan merupakan hubungan antara agen dan struktur satu sama lainnya.

Rationalist theory

Setelah perang dunia ke dua, realisme menjadi teori dominan dalam hubungan internasional. Pada tahun 1970an, ditantang oleh liberal, yang menekankan pada interdependensi antara negara, hubungan transnasional aktor non negara, khusunya perusahaan multinasional (MNCs). Hubungan internasional tidak dipahami sebagai sebuah sistem ‘bentrokan bola billiard’ tapi sebagai jaringan politik, hubungan ekonomi dan sosial yang mengikat aktor – aktor subnasional, nasional, transnasional, internasional dan supranasional. Negara diakui sebagai aktor utama dalam politik dunia.

Kenneth Waltz dalam buku Theory of International Politics merevisi teori realist, dan melabelinya dengan ‘neo realisme’ atau ‘realisme struktural’. Waltz menggambarkan dua sumber inspirasi sosial, yaitu model susunan teori, dan teori mikroekonomi. Yang pertama membawanya menemukan teori dengan asumsi minimal, yang kedua mendorongnya untuk menekankan determinasi struktural dari perilaku negara. Dua asumsi neo realis adalah: sistem internasional bersifat anarki, dalam artian tidak adanya otoritas terpusat yang memaksa tatanan; dan kepentingan utama dari sistem negara adalah kelangsungan hidup mereka sendiri

Waltz menyatakan bahwa perebutan kekuasaan adalah untuk menahan karakteristik internasional dan endemi konflik. Dia berargumen bahwa kerjasama antar negara adalah kehatian – hatian terbaik, yang terburuk adalah tidak bertahan.

Realis telah lama menyatakan jika kerjasama internasional mungkin, ini hanya dibawah kondisi hegemoni, ketika negara dominan sanggup untuk menggunakan kekuasannya untuk membuat dan memaksakan kebutuhan aturan instutusional untuk menopang kerjasama antar negara.

Neoliberal menerima bahwa negara harus mengejar kepentingannya dibawah kondisi anarki. Anarki tidak menentukan tingkat atau sifat kerjasama internasional. Ketika interaksi ekonomi dan politik antar negara minimal, disana ada sedikit kesamaan kepentingan untuk memacu kerjasama internasional. Saat interdependensi tinggi, negara mempunyai kepentingan bersama dalam cakupan luas. Adanya kepentingan bersama adalah prasyarat kerjasama internasional.

Ini tidak hanya menerangkan mengapa negara gagal untuk bekerjasama bahkan ketika mereka mempunyai kepentingan yang sama, ini menerangkan bagaimana mereka bekerjasama ketika mereka melakukannya. Berdasarkan neo liberal, negara membentuk institusi internasional, atau rezim untuk menanggulangi hambatan – hambatan untuk bekerjasama. Rezim internasional dikatakan untuk menjaga kecurangan ongkos, ongkos transaksi yang lebih rendah dan meningkatnya informasi, dengan demikian, memfasilitasi kerjasama dibawah anarki.

Neorealis percaya bahwa negara tetap mengukur kekuasaan mereka terhadap negara lain. Negara yakin akan kelangsungan nya. Negara cenderung menilai maksud negara lain sebaik kemampuan relatif mereka. Neo liberal dengan demikian mengkarakteristikan negara sebagai ‘utility – maximizers’

Neo realis dan neo liberal keduanya dibangun pada asumsi pilihan teoritis dari teori mikro ekonomi. Terdapat tiga asumsi, yaitu pertama aktor politik diasumsikan atomistik, self – interest, dan rasional. Kedua, kepentingan aktor diasumsikan exogen terhadap interaksi sosial. Interaksi sosial tidak dipertimbangkan sebagai faktor kepentingan. Ketiga, masyarakat dipahami sebagai tempat strategis, tempat dimana individu dan negara – negara bersama – sama mengejar kepentingan tetap mereka.

Negara diasumsikan sebagai ‘devensive positionalis’. Hubungan internasional dianggap sebagai strategi yang sangat teliti, dimana neo realis menyangkal sama sekali keberadaan komunitas negara, berbicara mengenai ‘sistem internasional’ bukan ‘komunitas internasional’

Negara pasti bersama dalam membangun kerjasama dan memelihara institusi fungsional, tapi identitas dan kepentingan mereka didak dibentuk oleh interaksi sosial sesama mereka.

The challenge of critical theory

Secara ontologi, mereka mengkritisi gambaran aktor – aktor sosial sebagai atomistic egoist. Mereka menyatakan bahwa aktor – aktor terikat dengan sosial, bahwa identitas dan kepentingan mereka dibentuk secara sosial, hasil dari struktur inter – subjective social.

Secara epistimologi dan metodologi, mereka mempertanyakan bentuk  neo positivism Lakatosian dari ilmu sosial. Semua pengetahuan disatukan dengan kepentingan, dan teori seharusnya dengan tegas membuka dan membongkar dominasi struktur dan penindasan. Mengklaim bahwa bentuk pergerakan selalu memarginalkan sudut pandang alternatif dan posisi moral, menciptakan hirarki kekuasaan dan dominasi. Dengan demikian, teori – teori rasional membahayakan.

Constructivism

Konstruktivisme muncul dari perkembangan dalam sosiologi. Richard Price dan Chris Reus – Smit memperlihatkan konstruktivis harusnya dilihat terutama sebagai hasil pertumbuhan teori kritik internasional.

Konstruktivis berbeda dari gelombang pertama teori kritik, dalam penekanan pada analisis empiris. Beberapa konstruktivis melanjutkan kerja pada level meta teori, tapi kebanyakan mencari penerangan konseptual dan teoritis melalui analisis sistemik dari teka – teki empiris politik dunia.

Kemunculan konstruktivis dipicu oleh empat faktor, yaitu pertama dimotivasi oleh percobaan untuk mempertegas kembali pre – eminence konsepsi mereka terhadap teori dan politik dunia. Kedua, berakhirnya perang dingin meruntuhkan penjelasan neo realis dan neo liberal , baik prediksi maupun pemahaman, menyangkut perubahan sistem yang membentuk tatanan global. Ketiga, munculnya generasi baru para sarjana muda, yang melihat potensi untuk inovasi elaborasi konsep dan empiris dalam pengembangan teori. Terakhir, Kemajuan perspektiv konstruktivis dibantu oleh entusiasme mainstream para sarjana, menggerakkannya dari pinggiran ke perdebatan teori mainstream.

Konstruktivis dipisahkan menjadi modernis dan post modernist. Mereka punya tiga inti ontologi terkait dengan usulan kehidupan sosial. Pertama, untuk meningkatkan struktur yang dikatakan dibentuk oleh perilaku aktor sosial dan politik. Konstruktivis meyakini struktur normatif atau ide sepenting struktur materi. Konstruktivis memperlihatkan sistem dari ide merupakan ide, kepercayaan dan nilai – nilai bersama yang juga punya karakteristik struktural, dan mereka menggunakan pengaruh yang besar dalam aksi politik dan sosial.

Konstruktivis menyatakan bahwa sumber material hanya berarti untuk tindakan manusia melalui struktur dari pengetahuan bersama dimana mereka melekat. Konstruktivis juga menekankan pentingnya struktur norma dan ide karena ini merupakan gagasam untuk membentuk identitas sosial dari aktor politik. Norma dari sistem internasional mengkondisikan identitas sosial dari kedaulatan negara.

Kedua, konstruktivis menyatakan bahwa pemahaman bagaimana kondisi struktur non material identitas aktor penting, karena indentitas memberitahukan kepentingan, dan pada gilirannya, tindakan. Konstruktivis menyatakan bahwa pemahaman bagaimana aktor menghasilkan kepentingan mereka sangat penting untuk menjelaskan cakupan fenomena politik internasional yang terabaikan atau salah pengertian. Identitas merupakan landasan kepentingan.

Ketiga, konstruktivis berpendapat bahwa agen dan struktur saling membentuk. Wendt mengesankan bahwa konstruktivis adalah strukturalis. Istitusionalisasi norma dan ide menegaskan arti dan identitas aktor individual dan rumusan dari perkiraan ekonomi, politik, dan aktuvitas budaya yang terikat dengan individu itu.

Normatif dan struktur ide dilihat sebagai pembentuk identitas dan interes aktor melalui tiga mekanisme’ yaitu: imajinasi, komunikasi, dan penkanan. Konstruktivis menyatakan bahwa struktur non materi mempengaruhi apa yang dilihat aktor sebagai kemungkinan: bagaimana mereka berpikir mereka seharusnya bertindak, apa yang dirasa batasan tindakan mereka, dan apa strategi yang bisa mereka bayangkan, untuk mencapai objektivitas mereka.

Struktur norma dan ide juga menjalankan pengaruh mereka melalui komunikasi. Norma mungkin berkonflik satu sama lainnya dalam preskripsinya. Terakhir, walau struktur ide dan norma tidak mempengaruhi kelakuan aktor dengan membingkai bayangan mereka atau menyediakan sebuah linguistik atau seruan pengadilan moral, konstruktivis menyatakan bahwa mereka bisa menempatkan tekanan signifikan pada kelakuan aktor.

Ditahun 1990, tiga perbedaan bentuk konstruktivis berkembang: sistemik, unit – level, dan holistik konstruktivis. Yang pertama fokus pada interaksi antara unitary state actors. Wendt percaya bahwa identitas negara melihatkan kepentingan, dan tindakan mereka.

Unit level konstruktivis adalah kebalikan dari sistemik konstruktivis. Unit level konstruktivis berkonsentrasi pada hubungan antara sosial domestik dan norma formal dengan identitas dan kepentingan negara.

Holistic konstruktivis mencoba menjembatani keduanya. Menghubungkan keduanya kedalam kesatuan perspektif analisis yang menganggap domestik dan internasional adalah dua wajah dalam suatu tatanan sosial dan politik. Perubahan ide, perkembangan norma, dan transformasi budaya, tapi mereka terlihat bergerak independen berdasarkan keinginan, pilihan dan tindakan.

Constructivism and its discontents

Bagi kebanyakan konstruktivis, ambisi mempunyai sedikit daya tarik. Constitutive memaksa mereka menekankan elemen dari agensi manusia, semuanya variabel terikat. Faktanya, konstruktivis mengulang – ulang bersikeras bahwa konstruktivis bukan teori, tetapi bingkai analisis.

Diskonten kedua diantara konstruktivis fokus pada hubungan dengan rasionalisme. Beberapa konstruktivis percaya bahwa keterikatan produksi dimungkinkan antara dua pendekatan, keterikatan berdasarkan divisi sarjana pekerja. Diskonten lainnya adalah keikutsertaan pertanyaan metodologi. Dan yang terakhir adalah hubungan antara konstruktivis dengan teori kritik internasional.

The contribution of constructivism

Kemunculan konstruktivis punya beberapa pengaruh yang kuat dalam pengembangan teori hubungan internasional dan analisis. Konstruktivis menempatkan penyelidikan sosiologi sebagai inti disiplin. Konstruktivis juga membawa level baru kejelasan konseptual dan pengalaman dalam analisis masyarakat internasional dan dunia.

Kemunculan konstruktivis juga telah menyebarkan pembaruan kepentingan dalam sejarah internasional. Ketertarikan konstruktivis terletak pada budaya, identitas, kepentingan dan pengalaman menciptakan ruang untuk membangun studi sejarah dan politik dunia. Terakhir, konstruktivis dihargai dengan bantua terhadap memperkuat kembali teorisasi norma dalam hubungan internasional.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

2 Responses to Constructivism

  1. shanteukie says:

    wah,,,tulisannya bagus ,,,ada tambahn ilmu lagi,,
    tapi mau tnya ne beib,,,,
    bagaimana konstruktivist menjelaskan perekonomian internasional???

    • debby109 says:

      kembali ke ide dasar konstruktivis itu sendiri beb,, yaitu “everything is constructed” so, dari sana kita juga membuat asumsi bahwa perekonomian internasional dibentuk / dibangun oleh agen dan struktur yang terlibat didalamnya. ketika kita melihat perekonomian dunia sekarang, maka dengan cepat kita bisa menyebutkan bahwa agen nya bukan lagi negara, melainkan TNC/MNC yang beroperasi hampir di seluruh belahan dunia, dan umunya berkantor pusat di negara – negara yang tergabung dalam G7/8.. sehingga tidak lah mengherankan politik luar negeri negara itu berbasiskan ekonomi yg bertujuan melindungi para pengusaha mereka, karena perekonomian dalam negeri tergantung pada aktivitas perusahaan / perusahaan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s