salah satu konsep yang melegitimasi tindakan USA


Liberalism

(Tim Dunne, dalam Globalization of World Politics 4e, hal 108 – 122)

Immanuel Kant dan Jeremy Bentham adalah dua orang pemikir awal liberal dimasa pencerahan (Enlightenment). Kebencian mereka terhadap kekejaman yang melanggar hukum, menuntun mereka pada konsep perpetual peace. Kant mengatakan bahwa untuk mencapai perpetual peace dibutuhkan transformasi kesadaran individual, kostitusi republik, dan perjanjian federal antar negara untuk mengakhiri perang.

Para pendukung Liberal percaya bahwa demi mencapai perpetual peace, harus dibentuk kerangka legal dan institusional yang mengikutsertakan negara – negara dengan tradisi dan budaya yang berbeda.

Para Liberalist juga percaya pada kekuatan hukum dalam penyelesaian permasalahan. Hal ini dikemukakan oleh Bentham. Dia memperlihatkan bahwa negara – negara federal telah berhasil mengubah identitas mereka dari konflik kepentingan menjadi federal. yang lebih damai, seperti argumennya yang terkenal yaitu, antara kepentingan – kepentingan negara tidak ada konflik yang sebenarnya (between the interests of nations, there is nowhere any real conflict)

Perang dunia I mengubah cara pandang Liberal terhadap pernyataan bahwa perdamaian bukanlah kondisi alami, melainkan sesuatu yang harus dibangun. Perdamaian dan kesejahteraan membutuhkan ‘perencanaan – perencanaan yang dibuat secara sadar’. Mungkin orang yang paling terkenal dalam mengemukakan otoritas internasional untuk mengatur hubungan internasional adalah Woodrow Wilson. Merujuk pada mantan presiden USA ini, perdamaian hanya bisa terjamin melalui pembentukan organisasi internasional untuk menangani keadaan anarki internasional. Hal ini tertuang dalam 14 program yang diajukannya dalam mewujudkan perdamaian dunia, pada pidatonya dihadapan Kongress tanggal 8 Januai 1918, dan pidatonya itu kemudian terkenal dengan sebutan The Fourteen Points.

Ide mengenai perdamaian yang dikemukakan Wilson ini merupakan ide dasar dari collective security. Yang dimaksud dengan keamanan kolektif adalah pengaturan dimana masing – masing negara dalam sistem setuju bahwa keamanan suatu negara terkait dengan keamanan yang lain, dan masing – masing negara juga setuju untuk bergabung dalam respon kolektif berupa agresi. Konsep ini juga dikenal dengan collective defence.

Berdasarkan penjabaran singkat konsep diatas, terkait dengan perilaku USA dalam perpolitikan dunia, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah teori Liberalisme merupakan salah satu teori yang melegitimasi tindakan USA, atau salah satu teori yang digunakan untuk membenarkan kepentingannya.

Para pemikir teori ini termasuk dalam golongan komunitas epistemik HI yang berorientasi Amerika sentrik, bahkan salah satu mantan presiden USA yaitu Woodrow Wilson juga didaulat sebagai seorang Liberalist, karena pidatonya yang terkenal dengan sebutan The Fourteen Points juga menjadi landasan dalam perkembangan teori ini.

Asumsi dasar Liberal yang terwakili melalui konsep Perpetual Peace yang dikemukakan oleh Immanuel Kant  menyatakan bahwa harus dibentuk kerangka legal dan institusional yang mengikutsertakan negara – negara dengan tradisi dan budaya yang berbeda, untuk tercapainya perdamaian. Lalu, perang dunia I yang mengubah cara pandang kaum Liberal bahwa perdamaian harus dibangun melalui perencanaan – perencanaan yang dibuat secara sadar, menjadi landasan dalam tindakan USA di perpolitikan internasional.

Asumsi inilah yang melandasi USA mempelopori terbentuknya berbagai organisasi internasional, dan rezim internasional pasca perang dunia II, yang terutama berorientasi pada perekonomian, seperti WB, GATT, dan IMF yang terkenal dengan Bretton – Woods System. Kaum Liberal juga percaya bahwa kedamaian dan kemakmuran sejalan.

Kemudian, ide Wilson mengenai keamanan kolektif juga menjadi landasan utama USA dan sekutunya dalam membentuk persekutuan militer yang lebih dikenal dengan NATO. Agresi militer yang dilancarkan ke Irak dan Afghanistan juga bisa dimaklumi jika dilihat dari sudut pandang ini, yaitu keamanan suatu negara terkait dengan keamanan yang lain, dan setiap negara setuju untuk bergabung dalam respon kolektif berupa agresi.

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s