Dinamika Rezim Internasional Pasca Perang Dingin: “Relasi antara Rezim dan Hegemoni”


Rezim internasional mulai berkembang semenjak masa Perang Dunia II, dimana pertemuan Bretton – Woods yang digelar pada pertengahan tahun 1944 merupakan cikal bakal terbentuknya rezim internasional, khususnya dibidang ekonomi.

Terdapat beberapa defenisi rezim internasional yang dikemukakan oleh beberapa ahli, namun apa yang ditawarkan oleh Stephen Krasner dianggap merupakan pengertian general yang bisa menjabarkan kerumitan dari fenomena. Krasner mendefenisikan rezim internasional sebagai suatu tatanan yang berisi kumpulan primsip, norma, aturan, dan proses pembuatan keputusan baik bersifat implisit maupun eksplisit yang berkaitan dengan harapan – harapan aktor – aktor yang memuat kepentingan aktor itu di area internasional.

Teori menyangkut rezim merupakan sebuah usaha yang diprakarsai pada tahun 1970 an oleh para ilmuan sosial sebagai catatan untuk keberadaan kebiasaan yang diformalkan dalam sistem internasional yang anarki. Rezim didefenisikan oleh prinsip, norma, aturan – aturan dan prosedur pengambilan keputusan. Sekarang, rezim membantu dalam mengatur hubungan internasional di banyak lingkungan aktivitas.

Robert Keohane, dalam jurnal “The Demand of The International Regimes” mengatakan bahwa rezim dianggap efektif selama masih ada permintaan terhadap keberadaan rezim di politik internasional. Namun hal ini bukanlah sesuatu yang mutlak, karena terdapat berbagai keadaan dan kondisi dimana demand terhadap rezim semakin berkurang, dan terkadang rezimmenjadi signifikan tanpa adanya aktor dominan.

Rezim merupakan sesuatu yang independen dalam politik internasional, dan rezim juga berperan sebagai fasilitator untuk terciptanya sebuah kesepakatan, dengan menyediakan seperangkat norma, peraturan, prinsip, dan informasi yang bisa dipercaya sehingga mengurangi tingkat ketidakpastian. Rezim lahir untuk menciptakan solusi dari masalah didalam kompleksitas perilaku anggota yang spesifik.

Berbicara mengenai dinamika rezim pasca perang dingin, dan relasi rezim dengan kekuatan hegemoni, maka kita tidak bisa lepas dari Hegemonic Stability Theory (HST) dan catatan Keohane dalam jurnalnya “The Demand of The International Regimes”.  Teori stabilitas hegemoni yang ditawarkan kaum Neorealis mengatakan bahwa rezim akan stabil selama adanya kekuatan hegemoni, yang berperan sebagai pembentuk dan pelindung rezim itu. Hal ini kemudian disanggah oleh Keohane. Dia mengatakan bahwa rezim bisa tetap berjalan tanpa adanya kekuatan hegemoni, selama demand terhadap rezim itu masih ada.

Dengan berakhirnya perang dingin, yang dimenangkan oleh Amerika, maka secara otomatis Amerika menjadi kekuatan hegemoni dunia, karena tidak ada lagi negara yang bisa mengimbangi power yang dimiliki oleh Amerika. Hal ini tentu saja berpengaruh pada rezim internasional dan juga konstalasi perpolitikan dunia.

Amerika membentuk berbagai rezim internasional, terutama rezim ekonomi, dimana IMF, WB, dan WTO adalah ikon nya. Pada ketiga institusi ini, Amerika memegang peranan paling penting dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan – kebijakan yang diambil rezim. Disini dapat dengan jelas kita lihat berlakunya teori stabilitas hegemoni, dengan tesis mereka yaitu rezim berlangsung selama adanya kekuatan hegemoni yang berperan sebagai pembentuk dan pelindung rezim.

Melihat pergerakan konstalasi perpolitikan dunia saat ini, tidak dapat dipungkiri bahwa hegemoni Amerika melemah, pasca krisis finansial yang melanda Amerika tahun 2008. Krisis finansial ini tidak hanya melanda Amerika saja, tapi juga merambah belahan dunia lain, dan berubah menjadi krisis finansial global.

Melemahnya hegemoni Amerika ini bisa dirasakan di berbagai region, seperti Asia – Pasifik, dan ASEAN. Sementara Amerika disibukkan dengan pengaturan ekonomi mereka pasca krisis, muncul kekuatan baru di dunia, yaitu China, India, dan Jepang.

Menurunnya hegemoni Amerika ini sedikit banyak mempengaruhi dinamika rezim internasional. Amerika yang selama ini menjadi pemegang kekuasaan di rezim internasional mulai merasa kewalahan, dan meminta “bantuan” kepada negara – negara aliansinya, bahkan kepada negara – negara yang dianggap berhasil mengatasi krisis finansial 2008, melalui forum G – 20.

Rezim internasional, khususnya rezim ekonomi, masih berjalan walaupun kekuatan hegemoni melemah. Hal ini sejalan dengan pendapat Keohane, bahwa rezim internasional bisa tetap berjalan walaupun tanpa kekuatan hegemoni, selama demand terhadap rezim itu masih ada, dan hal inilah yang terjadi saat ini.

Kaum Neorealis, mengidentikkan hegemoni yang berlaku di sebuah rezim sebagai hegemoni power suatu negara, dimana kemudian negara itu menggunakan powernya untuk menjaga keberlangsungan rezim. Neorealis tidak melihat kemungkinan lain dari hegemoni selain power negara.

Fenomena yang terjadi belakangan ini, dimana hegemoni power Amerika menurun, sedangkan berbagai rezim internasional tetap berjalan, maka ini bisa menjadi kontra indikasi terhadap teori stabilitas hegemoni. Kaum Neorealis tidak mengantitisipasi hegemoni lain, selain dari power yang dimiliki oleh sebuah negara. Hal ini bisa dimaklumi karena kajian utama mereka adalah melihat peranan yang dipegang oleh power suatu negara dalam interaksi antar negara di dunia.

Dengan tetap berlangsungnya rezim pasca melemahnya hegemoni Amerika, ini menguatkan asumsi Keohane, bahwasanya rezim  bisa tetap berlangsung tanpa adanya kekuatan hegemoni, dimana hegemoni yang dimaksud disini juga merupakan power.

Belakangan ini, terbentuk rezim baru tanpa dilandasi hegemoni power suatu negara, melainkan hegemoni ideologi dari suatu kelompok, atau individu. Contoh dari rezim ini adalah rezim lingkungan. Belakangan ini isu lingkungan merupaka sesuatu yang menjadi pembicaraan, terkait dampak global warming yang setiap harinya semakin dirasakan oleh manusia, dan kerusakan lingkungan yang makin nyata.

Rezim ini bergerak untuk mengkampanyekan gerakan perbaikan dan perlindungn lingkungan, dan rezim ini dibangun oleh para aktivis peduli lingkungan, dan para ilmuan. Hegemoni yang digunakan dalam membangun rezim ini bukanlah hegemoni power, melainkan hegemoni ideologi. Hal ini tentunya sangat bersesuaian dengan pernyatan Keohane, yaitu rezim bisa tetap berjalan tanpa adanya kekuatan hegemoni

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in learning and sharing. Bookmark the permalink.

7 Responses to Dinamika Rezim Internasional Pasca Perang Dingin: “Relasi antara Rezim dan Hegemoni”

  1. Monalisa Wirta Fella says:

    bagus ni kajian nya…..
    coba donk bahas kenapa perang peloponnesian itu terjadi pada negara demokrasi seperti Athena??
    dan sebenarnya gimana sih kisah perang itu???

    • debby109 says:

      thx beib….
      insya allah yaaa…
      ne baru mule nulis beb,, so tugas2 yg kemaren tu dipublish disini smua nyaa….
      kalo mau bahas perang peloponessian,, kayaknya perlu baca bukunya morgenthau nee…

  2. dewy says:

    by..mantap mantap,lanjutkan ,,,,

  3. kapan ne bkin proposalnya????
    udah ada ide gag???

  4. debby109 says:

    teteh: makasi.. insya Allah teh.. ne baru permulaan..🙂

    beb_cha: proposal?? ehmm.. gimana yahh??? diri mu beb?? semester depan q ngajuin,, semester ne padat bgt beb…

  5. bagus deb, boleh saya pake idenya ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s