kembali membuka arsip lama – part I


Aku dan Mereka

ku berjalan di sepanjang pantai, ku lihat sekumpulan orang di salah satu sisi. ku berhenti perhatikan mereka:

kulihat mereka semua serupa dengan bentuk mata, mulut, hidung, telinga, wajah dan warna kulit identik. di dahi mereka terukir sebuah kata yang kuyakini nama mereka.

oh ya, bahkan sampai pakaian pun mereka seragam.

kuperhatikan diri ku sendiri, ternyata aku berbeda dari mereka. wajah, mata, hidung, mulut, telinga, dan detil lain diriku tak ada satupun yang sama dengan mereka, dan juga tanpa goresan di kening tentunya.

ku percepat langkah ku kearah mereka. aku heran, ku yakin langkah kaki ku mereka dengar.

tapi,………

mengapa tak satu pun yang menoleh???

ku tepis perasaanku dan kucoba berbaur dengan mereka

tapi,……..

mereka semua tertawa, mereka semua terbahak. aku semakin heran, apa yang mereka tertawakan??

aku semakin heran. apa yang mereka tertawakan?

ku terus berjalan ke pasar, taukah engkau apa yang ku alami? ya.. mereka juga tertawa!

ku melangkah ke sekolah, toko buku, bandara, terminal, bahkan di toilet umum pun mereka tertawa!

hal ini mulai menggangguku. apa yang mereka tertawakan?? mengapa mereka selalu tertawa?? aku kah??

ku mulai berlari, ku lari tak tau kemana ku berlari, hingga akhirnya ku temukan diriku terdampar di padang luas yang bertelaga. disana ku berkaca mematut diri dan bertanya kepada bayangan sendiri.

apa yang mereka tertawakan?

mengapa mereka selalu tertawa?

AKU kah??

apa yang salah dengan ku?

toh aku juga salah satu dari mereka!

atau mungkinkah aku ini hanyalah produk gagal?????

tak ada jawaban, hanya permukaan air yang bergetar. aku tak tau apa artinya, sebuah jawaban kah??

ku terus bertanya namun yang ku dapat sama. aku mulai kesal, aku pun berteriak berharap seseorang mendengarku, tapi yang kudapat hanyalah gema suara samar meneriakkan kata yang sama memekakkan telinga…


Telaga Bening

ku berkaca di telaga bening, ku lihat pantulan bayangan langit yang berwan, pepohonan dan dedaunan.

kulihat dan kulihat lagi. kurasakan semilir  angin di sekitar ku. menggetarkan permukaan telaga beserta bayangan yang dipantulkannya.

kulihat dan kulihat lagi. tapi, mengapa tak nampak jua??

bayangan ku sendiri, ya bayangan ku sendiri.

kulihat lagi dan lagi, hanya untuk yakinkan diri. ku terduduk renungkan diri.

mengapa ku tak bisa melihat bayanganku sendiri?? diantara semua pantulan bayangan yang ada? bahkan langit tinggi disana pun mampu ku ketahui. tetapi, kenapa dengan bayangan ku??

kenapa dengan ku?? yang bahkan bayangan sendiri pun tak sanggup ku kenali..

kemanakah harus ku cari lagi?? setelah berkaca di telaga bening dalam diri. refleksi dari semua isi hati.

atau mungkinkah aku hanya makhluk tanpa bayangan?

terombang ambing di kehidupan

terbang bersama angin…

mengalir bersama air…

Sampah

 

orang orang terbuang, sampah kehidupan

polutan! mengotori air, udara, lingkungan

sumber penyakit, tak berfungsi

debu, beterbangan disana sini. mengotori semuanya!

pengacau, sampah, virus, kotoran, MUTAN!

tak peduli dan tak pernah peduli. terasing dan sendirian. tak terima dan diperolokkan

DIHINA! DIHUJAT! DIMAKI!

layaknya penderita, menerima ocehan mereka, tanpa mereka tau yang sebenarnya

dan, dimana letak manusia dan kemanusiaan? kalau toh sendirian juga? apa gunanya jadi manusia? tanpa sosialisasi dan lingkungan! hanya untuk mendapat gelar orang buangan?? hanya untuk itu kah??

TIDAK!!!!!!

tak bisa begini dan selamanya TIDAK!

selami nurani, menjelajahi dunia tanpa tepi. milik sendiri, tak akan pernah tercampuri.

mari ajukan hipotesa

“benarkah aku sampah kehidupan?? tak lebih dari limbah sumber polutan??”

nuraniku menjerit, jiwaku meronta

ITU TIDAK BENAR!! AKU BUKAN POLUTAN!!

AKU adalah AKU, apa adanya DIRIKU. bukan siapa siapa, dan bukan apa apa.

polutan?? mereka menyebutku polutan?? berani sekali mereka!!

selamanya tak akan kubiarkan! dan kini kuteriakkan pada dunia:

“AKU ORANG BERGUNA! DENGARKANLAH HAI MANUSIA!”

About Dyra Gustin

Free spirited, adventurer, child at heart
This entry was posted in random. Bookmark the permalink.

2 Responses to kembali membuka arsip lama – part I

  1. Gibran Malik says:

    taingek gib puisi egib yang “muntah”. Dari situ debby dapek inspirasi ndak. haha, pe de nyo lai. anyway, suko gib puisi debby.

  2. debby109 says:

    hahaha,, not at all!!
    dby c ndak tau puisi gib yg ma nan gib maksud.
    sajak ko sadonyo dby buek pas dby kls 3 sma mah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s