New Life, New Start


Personally, for me 2015 was a bumpy year. Start the year with horrible and worthless feeling, step on the very rough path, having personal struggle and hitting the lowest ground to the point I almost lost my self. All that I believe in seemed crumble down upon my eyes. Universe was hitting very hard upon me.

I was landed a job in the field that I thought was my dream job but later I found it wasn’t. I was looking for escape and jumped on everything that come around, hoping it would be an exit. To started everything from the scratch. One of that endeavor was applying for a scholarship.

In a nutshell,, I am awarded that scholarship, and not without an obstacle. But that was all worth it. I took that as a test of my intention to start something new. I thank god and universe for hearing my prayer. I also learn that we cant achieve all that we want for, but we can adapt to the situation. What doesn’t kill you makes you stronger, eh??

And now I am ready to set for a new adventure, start a new chapter of my life…

Posted in random | 1 Comment

The Importance of Energy Security Study


Note:

This paper was written to fulfill the requirement  of application to postgraduate program at Indonesia Defense University

The term energy security has yet to come to a clearly defined concept, thus it has been pivotal in policy making since early 1970s. In general, energy security is defined as the availability of energy supplies to meet its demand in any given time, in efficient manner. Energy security can be divided into two categories, long term energy security and short term energy security. Long term energy security is the idea of avoiding the risk of the availability of cheap and efficient energy, considering its future needs. Short time energy security is how energy availability is able to fulfill its immediate demand.

The importance of energy security study is driven from the idea that energy plays a critical role in shaping economic development, ensuring national security, and keeping social stability, as well as politic. In fact, energy has become a political instrument, not only in national politics but also in the international political stage. Energy holds significant position in determining the existence of a nation, because it is the backbone to its economics and its security sectors. A country needs to ensure its energy security in order to run business and economics, furthermore to attract investors to invest in its domestic market. Energy is necessary not only to run factories, but also to distribute its final goods, as well as it is vital to a country defense system in the term of energy as fuel for defense apparatuses.

At glance, the vulnerability of energy supply-chains, limitation of its resources and its uneven distribution are the biggest threats for current energy security globally. Up until this very moment, countries rely heavily on non-renewable energy resources such as petroleum, coal, and natural gas. On the other hand, the continuity of using this kind of energy brings some negative impacts, such as various environmental degradation and it has been proven scientifically that carbon emission from petroleum and coal was the major cause of global warming. Countries share problem and urgency not only to find more secure and stable energy trajectory, but also to keep it cheap and environmental friendly. Indonesia is no exception.

As a developing country, Indonesia should find a way to ensure the availability of its energy supply, as well as others, for the sake of its development’s sustainability and national security. Our future energy policy should cover not only the guarantee for long term availability, but also the effect of energy use to the environment, which is strongly related to Indonesia’s commitment to cut its carbon emission as much as 26% by 2020. In order to achieve this goal, government is suggested not to rely on forestry sector alone, but should also look into the energy sector.

Although Indonesia is abundant with renewable energy resources which are cheaper and more environmental friendly than non-renewable one, up until this very moment our major energy supply comes from non-renewable resources. If we are able to reduce our dependency on non-renewable energy and switch to renewable energy, it will in turn contribute significantly to emission reduction target, and secure our energy availability.

Posted in learning and sharing | Leave a comment

…and finally all is said and done…


Its been awhile since the last time I wrote here…

blog yang berawal dari sebuah tugas, kemudian tetap bertahan walaupun ga keurus, karena yang punya rada sibuk (alesan!) atau lebih tepatnya menyibukkan diri ga jelas dengan bermacam aktivitas yang kalo di  list makin lama makin ngeyel… (yasudalaa…)

ok siip.., jadi malam ini tetiba gw pengen nulis lagi di sini, berbagi suka duka hidup ini yang selama setahun ngerjain skripsi (klasik bin basi banget dah alasannya!) yap! proses pengerjaan skripsi gw itu nyaris setahun, dimana SK pembimbing keluar sekitaran bulan februari 2012 – gw lupa tanggalnya – dan gw lulus kompre tertanggal 21 januari 2013. *dan pertanyaan pertanyaan klasik semacam “kan cuman skripsi, kok lama amat??” ok sip.., emang CUMAN skripsi dan gw akui emang LAMA proses pengerjaannya.., but hey…, I’ve done it.., I get thru it!!

dan disaat semuanya uda kelar.., gw refleksi perjalanan selama 1tahun ini.., there are ups and downs.., laugh, cry, smile, praise and scolding from many many parties, but with bestfriends and folks around, I can thru it, and finally done my final assignment as a univ student, to write a skripsi.., yeah dude, that one year was really a though time…, so am I happy now?? to some extend YES.., but for advance I cant answer that question, cuz I just entered “the jungle”, and now in the adaptation mode.  can I survive? how will I apply my knowledge in the mid of community? can I being an agent to elevate the community with all that I have??? this is the real challenge! but still there is a hope…, I do believe in hope and opportunity…

sejak keluarnya SK sampe sidang pertama (seminar proposal) itu sekitar 3 bulan (februari – mei), abis tu gw vakum 3 bulan (juni – agustus) kenapa gw vakum??? ok gw coba jawab. pertama karna gw stuck ga tau gimana mau lanjutinnya, antara ngikutin saran sidang atau tetap jalan sesuai yang uda gw ancang-ancang, so gw pengen off dulu ngilangin suntuk n nyari inspirasi, yang rencananya cuma 1 minggu malah bablas jadi 3 bulan >_< . selama 3 bulan tu gw go here and there, ngambil part time yg hasilnya lumayan, sehingga gw nyaris lupain skripsi… hihihi *evil laugh

proses itu gw mulai lagi (dengan serius) setelah dapat “warning” n ketika teman – teman uda berguguran satu persatu (baca: tamat). hal ini jadi motivasi tersendiri buat gw…, I was asking my self “kalo dia bisa cepet, kenapa gw ga?? kita masuk barengan, ga ada alasan buat gw untuk tertinggal”. maka dengan berbagai tekanan n self motivation, gw move on, n menggeber ngerjain skripsi 3 bab selama kurang lebih satu setengah bulan.. setelah melalui beberapa kali proses bimbingan n revisi.., gw dapat acc buat sidang kompre.., n akhirnya dinyatakan lulus tertanggal 21 januari 2013.

walo dinyatakan lulus.., tapi perjuangan buat bisa wisuda bulan februari maren lumayan menguras energi, secara fisik n psikologis.., ciyusss…!! jadi niy yaa.., gw lulus kompre 10 hari sebelum pendaftaran akhir wisuda.., n syarat buat daftar wisuda itu dah mesti nyerahin skipsi yang uda di jilid ke uni, ga bisa pake surat perjanjian n semacamnyaa..! jadi gw cuman punya waktu 10 hari buat ngerjain revisi.., jilid skripsi.., n urus syarat-syarat lainyaa…!! sumpah rempong bangett!!! gw dapet acc jilid skripsi itu sehari sebelum batas akhir pendaftaran.., n skripsi gw anter ke tempat fotocopy itu uda sekitar jam setengah 12 malem..!! but finally it was worth.., sejak lulus kompre hingga daftar wisuda itu beneran masa-masa kritis bangeeett!!!

and in the end, when its all said and done…, Im asking my self.., kok bisa bisanya gw bahas something complicated di skripsi.., bukannya malah yang simple aja biar dapat gelar sarjana secepatnya.., apakah murni karna nekat.., atau emang dasar gw yang edan???

Posted in random | Leave a comment

Review Film “Sometimes in April”


Film ini berkisah tentang genosida yang terjadi di negara Rwanda, Afrika pada bulan April 1994, dimana yang jadi korban disini adalah Suku Tutsi, dan pelaku pembantaian adalah Suku Hutu. Genosida yang terjadi merupakan lanjutan dari perang etnis yang terjadi diantara kedua suku. Korban dari tragedi ini diperkirakan hampir mencapai angka satu juta jiwa.

Film ini merupakan film dokumenter, yang mengangkat kehidupan seorang mantan anggota militer Rwanda, bernama Augustin, yang kehilangan hampir seluruh anggota keluarganya karena tragedi pembantaian yang terjadi. Bahkan, Augustin sendiri masuk dalam daftar eksekusi walaupun dia Suku Hutu, tak lain karena dia menikahi seorang perempuan dari Suku Tutsi.

Dillihat sekilas, kasus ini merupakan krisis internal dalam negeri Rwanda, tetapi yang diceritakan oleh film ini lain. Terdapat keikutsertaan pihak asing dalam kasus yang terjadi. Senjata – senjata yang digunakan untuk membantai Suku Tutsi adalah sumbangan dari pihak asing seperti Perancis dan China. Ditengarai juga terdapat kepentingan Amerika disana, karena kasus ini sudah diprediksi terjadi oleh CIA, dimana kondisi terbaik yang bisa diharapkan adalah korban jiwa sejumlah 20.000 orang, dan kondisi terburuk jatuh korban sebanyak 500.000 jiwa. Tapi yang terjadi jauh lebih buruk dari prediksi itu, karena jumlah korban mencapai hampir mencapai jumlah satu juta jiwa.

Genosida merupakan salah satu pelanggaran berat dalam Hukum Humaniter Internasional, bersama – sama dengan pelanggaran terhadap hukum dan kebiasaan perang, kejahatan terhadap perdamaian, dan kejahatan terhadap perikemanusiaan.

Awal mula dari tragedi genosida ini adalah kudeta yang dilakukan oleh petinggi militer, karena presiden dianggap tidak tegas dalam menyelesaikan konflik etnis yang terjadi. Keadaan semakin diperparah oleh sebuah siaran radio yang sangat jelas memercikkan api permusuhan diantara Suku Hutu dan Tutsi. Genosida dimulai setelah pesawat kepresidenan di bom jatuh oleh pihak militer.

Menurut HHI, kasus yang terjadi di Rwanda digolongkan kedalam sengketa bersenjata non – internasional. Walaupun ini bukanlah sengketa internasional, namun hal ini diatur oleh HHI, sehingga idealnya jalannya konflik harus sesuai dengan kaedah – kaedah yang berlaku dalam HHI. Pasal 3 konvensi Jenewa tahun 1949 menentukan aturan-aturan HHI dan kewajiban para pihak yang berkonflik untuk melindungi korban perang dalam perang yang tidak bersifat internasional, namun belum dijelaskan kriteria atau definisi sengketa bersenjata non-internasional.

Kriteria tentang sengketa bersenjata non – internasional dimuat dalam Protokol Tambahan II/ 1977 tentang perlindungan Korban Sengketa Bersenjata  Non-Internasional, yaitu: sengketa bersenjata yang terjadi dalam wilayah suatu negara antara pasukan bersenjata negara tersebut dengan pasukan bersenjata pemberontak atau dengan kelompok bersenjata terorganisasi lainnya yang terorganisasi di bawah komando yang bertanggung jawab melaksanakan kendali sedemikian rupa atas sebagian dari wilayahnya sehingga memungkinkan kelompok tersebut melakukan operasi militer yang berkelanjutan dan berkesatuan serta menerapkan aturan-aturan HHI yang termuat dalam Protokol Tambahan II/ 1977.

Dengan pencantuman tentang konflik non internasional dalam Protokol Tambahan, maka HHI tidak lagi hanya mencakup konflik bersenjata internasional, tapi juga non internasional, atau dengan kata lain, aturan – aturan HHI harus ditaati pada setiap konflik yang berlangsung, baik yang bersifat internasional maupun tidak.

Dalam kasus yang terjadi di Rwanda, dimana awalnya kasus digolongkan sebagai sengketa bersenjata non – internasional, yang berarti semua pihak yang terlibat harus tunduk pada aturan – aturan HHI, namun yang terjadi justru pelanggaran terhadap semua prinsip – prinsip dan aturan – aturan HHI, sehingga keadaan tidak dapat dikendalikan dan berujung pada genosida yang merenggut nyawa ratusan ribu jiwa.

HHI memiliki delapan prinsip, yaitu:

  1. Kemanusiaan
  2. Necesity (kepentingan)
  3. Proporsional (Proportionality)
  4. Distinction (pembedaan)
  5. Prohibition of causing unnecessary suffering (prinsip HHI tentang larangan menyebabkan penderitaan yang tidak seharusnya).
  6. Pemisahan antara ius ad bellum dengan ius in bello.
  7. Ketentuan minimal HHI
  8. Tanggungjawab dalam pelaksanaan dan penegakan HHI.

Kasus yang terjadi di Rwanda telah melanggar setidaknya lima dari delapan prinsip yang ada. Penyerangan yang dilakukan oleh Suku Hutu sama sekali sudah jauh melenceng dari koridor kemanusiaan, azaz distiction (pembedaan), dan kepentingan. Mereka menyerang secara serampangan, tak peduli anak – anak, wanita, atau orang tua, selama mereka bersuku Tutsi, atau terkait dengan suku Tutsi, maka suku Hutu akan melakukan penyerangan kepada mereka.

Penyerangan yang dilakukan juga tidak memandang tempat. Mereka melakukan penyerangan di tempat – tempat yang menurut aturan HHI tidak boleh diadakan penyerangan, seperti rumah ibadah dan sekolah.

Diatas semua itu, pelanggaran terberat yang terjadi adalah genosida. Pembantaian yang terjadi selamanya akan menjadi sejarah hitam bangsa Rwanda. Kesakitan dan trauma yang diakibatan oleh kejadian itu akan selamanya membekas dalam pikiran rakyat Rwanda, terutama para korban selamat yang mengalami langsung kejadian itu, ataupun mereka yang kehilangan anggota keluarganya.

Sayangnya, dari 83 orang tersangka penyebab tragedi itu, baru 20 orang diantaranya yang dijatuhi hukuman, dan orang – orang yang menyaksikan tetapi tidak berusaha menghentikan terjadinya pembantaian tidak dihukum sama sekali.

Posted in learning and sharing | Leave a comment

human security, terorism and military forces (unfinished)


secara internasional, sampai saat ini belum ada defenisi mengenai terorisme yang disepakati, tetapi hal-hal yang terkait dengan defenisi terorisme ini berkisar antara ancaman dan kekerasan yang ada kepentingan politik dan menimbulkan ketakutan di masyarakat.
kata-kata teror muncul saat terjadinya Revolusi Prancis tahun 1789, dimana saat itu hubungan teror dan negara terlihat masuk akal, tetapi saat ini defenisi terorisme menjadi cenderung ambigu. undang-undang pencegahan tindakan terorisme Inggris yang disahkan tahun 1974 mendefenisikan terorisme sebagai penggunaan kekerasan untuk tujuan politik, termasuk penggunaan kekerasan dengan tujuan menciptakan ketakutan di bidang publik.
untuk menghindari potensi tumpang tindih dalam defenisi mengenai teroris ini, maka tindakan aparatur negara harus dibedakan dengan terorisme, karena negara berhak untuk memberi sanksi yang mengandung unsur kekerasan dalam wilayah teritorinya, maka oleh sebab itu rasanya defenisi yang cocok untuk terorisme adalah penggunaan kekerasan dengan tujuan politik yang menyebabkan ketakutan di masyarakat, dilakukan oleh aktor non negara yang tidak bertanggung jawab.
banyak faktor yang membuat defenisi tunggal terorisme tidak bisa diterima secara internasional, antara lain perkembangan komunitas internasional, dan karena teroris masih merupakan kata dengan konotasi negatif.

secara umum, terorisme bisa digolongkan kedalam tiga tipe. tipe pertama dikenal dengan tipe nationalis/separatis. kelompok ini bertujuan untuk mencapai kepentingan nasional, atau memisahkan diri dari suatu negara. terorisme yang masuk dalam kelompok ini sulit untuk dibasmi. tipe kedua dikenal dengan kelompok grup sayap kiri dan sayap kanan (left and right wings). kelompok ini melakukan teror untuk menata ulang struktur negara atau institusi internasional secara radikal. tipe teroris yang terakhir adalah religious groups. kelompok ini bekerja dibawah ideologi untuk menegakkan kebenaran. grup ini telah mendominasi peta politik internasional semenjak perang dingin berakhir. salah satu kelompok teroris yang paling kejam dalam catatan sejarah adalah Al-Qaeda, dan kelompok ini masuk dalam tipe ketiga. Al-Qaeda punya agenda transnasional, dengan tujuan jangka panjangnya adalah mengusir USA dari timur tengah, dan menegakkan otoritas Islam. cara rekruitmen Al-Qaeda tidak lagi memakai cara lama berupa camp-camp konsentrasi di Afghanistan, melainkan melalui internet, simpatisan, dan jaringan. rekruitmen tidak bersandar pada metode top-down.

counter-terrorism merupakan serangkaian strategi dan mekanisme untuk memprediksi dan mencegah aksi teror, termasuk didalamnya tindakan meningkatkan keamanan, penelusuran aliran dana, kemampuan untuk menangkap dan investigasi, serta taktik lainnya. pendekatan yang digunakan dalam tindakan counter terrorism ini terbagi dua, yaitu pendekatan secara halus, dan menggunakan militer.

pendekatan secara halus dilakukan lewat jalan negosiasi dengan persiapan matang. pendekatan ini mencoba untuk melenyapkan akar dari tindakan terorisme, dan mencarikan jalan lain bagi pelaku terorisme untuk menyampaikan tuntutannya. biasaya pendekatan ini dilakukan, jika akar tindakan terorisme yang teridentifikasi adalah kemiskinan dan tekanan politik, dan para pelaku teror menganggap bahwa tindakan teror merupakan satu-satunya cara untuk mendapat keadilan dan distribusi sumberdaya yang lebih merata.

hasil kajian dari berbagai tindakan teror yang terjadi menimbulkan bahwa tidak semua pelaku teror merupakan orang-orang tidak berpendidikan dengn tingkat ekonomi lemah, tetapi juga terdapat pelaku yang berasal dari kalangan kelas menengah yang bertindak mengatas namakan saudara-saudara mereka yang kurang beruntung, sehingga kemiskinan saja tidak cukup dijadikan sebab munculnya tindakan teror, dan usaha internasional untuk menghapuskan kemiskinan dan menaikkan standar pendidikan tidak berdampak signifikan terhadap aktivitas teroris.

militer merupakan instrumen utama yang digunakan dalam perang terorisme, dengan penggunaan strategi prevention, deterrence, coercion, disruption, dan destruction. strategi prevention digunakan untuk mengendalikan kondisi yang memungkinkan teror terjadi. deterrence digunakan untuk memecah konsentrasi aktivitas teroris. coercion, disruption, dan destruction difokuskan untuk memberantas pihak-pihak yang mensponsori tindakan terorisme.

peran terbaik yang bisa dimainkan oleh militer dalam melawan teror adalah mempertahankan tanah air, karena secara tradisional militer berperan untuk membantu otoritas sipil. akan lebih produktif kiranya jika militer difokuskan pada tindakan pencegahan teror, seperti memberikan bantuan militer bagi negara yang gagal untuk meredam dan menstabilkan situasi sebelum mencapai titik dimana tindakan teror terjadi. di tingkat internasional, militer bisa dimasukkan kedalam program reformasi sektor keamanan, dimana instrumen militer berperan untuk membantu negara yang gagal untuk meningkatkan kapasitas militer dan penegakan hukum mereka.

Posted in learning and sharing | Leave a comment

Environmental Protection is Seen As a Classic Collective Action Problem. Is That True? How? Why?


Lingkungan adalah keadaan dimana terjadi perpaduan yang mencakup sumber daya alam, flora dan fauna di daratan maupun lautan, serta manusia sebagai pengelola dan penggunanya. Lingkungan terdiri dari dua komponen, yaitu biotik dan abiotik. Komponen biotik adalah segala sesuatu yang tidak hidup, seperti udara, air, tanah, bahan tambang, cahaya, dan lainnya. Komponen biotik mencakup segala yang bernyawa, seperti manusia, tumbuhan, hewan, dan mikro organisme.

Setiap negara – negara di dunia mempunyai suatu badan khusus di pemerintahan yang mengatur masalah lingkungan. Di Indonesia, instansi pemerintahan yang menangani permasalahan lingkungan hidup adalah Kementrian Lingkungan Hidup, sedangkan di USA adalah EPA (Evironmental Protection Agency).

Dengan semakin modernnya dunia, diiringi dengan permasalahan lingkungan yang bermunculan, seperti berlobangnya lapizan ozon, gas rumah kaca, pemanasan global beserta akibatnya, seperti berkurangnya es di kutub utara dan selatan yang mengakibatkan naiknya permukaan air laut yang menenggelamkan pulau – pulau kecil, naiknya suhu dunia, pengasaman lautan, dan cuaca yang tidak menentu. Permasalahan ini mengancam eksistensi semua komponen biotik di dunia ini.

Belakangan ini permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan makin mengkhawatirkan, tidak hanya terjadi di satu negara, tapi juga hampir di semua negara dunia, sehingga permasalahan tentang lingkungan menjadi perhatian dunia, dan usaha untuk melindungi lingkungan menjadi suatu aksi bersama negara – negara di dunia. Bagaimana dan mengapa mereka melakukan aksi itu merupakan sesuatu yang menarik untuk didiskusikan.

Permasalahan lingkungan tidak hanya menjadi perhatian negara – negara saja, tetapi juga banyak NGO yang terdiri dari para ahli dan pemerhati lingkungan memperhatikan dan berusaha mengatasi permasalahan lingkungan, walu terkadang cara – cara mereka dianggap tidak lazim dan radikal.

Salah satu NGO yang sangat terkenal akan kepedulian mereka terhadap lingkungan, dan aksi – aksinya yang tergolong radikal adalah Green Peace. NGO yang bergerak di hampir seluruh dunia ini, tak henti – hentinya menyerukan larangan penebangan hutan, bahkan mereka melakukan berbagai aksi ekstrim yang mengancam keselamatan aktivisnya, demi menyelamatkan lingkungan. Begitu banyak para aktivis Green Peace yang ditangkap karena aksi mereka, disetiap pertemuan internasional yang membahas tentang lingkungan.

Berbagai NGO lain juga melakukan aksi yang tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Green Peace. Para pemerhati lingkungan yang tergabung dalam kelompok kepentingan juga melakukan aksi untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Mereka menyiarkan suatu kasus yang mereka temui di suatu daerah, dengan tujuan untuk menarik perhatian dunia, sehingga para pemimpin dunia sadar betapa sudah rusaknya lingkungan ini, dan bisa membuat keputusan yang menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang lebih parah.

Contoh kasus yang coba mereka angkat adalah kekeringan di Afrika, krisis air bersih di Amerika Selatan, penebangan hutan yang terjadi di Brazil dan Indonesia. Mereka berusaha menyadarkan dunia bahwa jika kerusakan lingkungan tidak dihentikan sekarang juga, maka satu – satunya masa depan yang tersisa bagi generasi selanjutnya adalah kehidupan tanpa air bersih, polusi, terbenamnya pulau – pulau kecil, dan tingginya tingkat penderita penyakit kanker kulit karena paparan langsung sinar UV, tanpa ada lapisan ozon yang menahannya.

Akibat dari tidak stabilnya lingkungan sudah terlihat sangat jelas. Di beberapa tempat, hujan turun sangat deras, hingga mengakibatkan banjir, dan di tempat lain curah hujan sangat sedikit sehingga terjadilah kekeringan. Selain itu, musim sudah tak menentu lagi. Masyarakat di berbagai belahan dunia mengeluh akan sengatan sinar matahari yang membakar kulit, bahkan di India dan USA dilaporkan beberapa kematian diakibatkan oleh tingginya suhu, dan intensitas panas yang dianggap berlebihan.

Dari paparan contoh kasus diatas, maka jawaban mengapa negara – negara melakukan aksi kolektif untuk melindungi lingkungan sudah sangat jelas, yaitu permasalahan lingkungan yang terjadi tidak hanya pada satu negara saja, tapi sudah menjadi permasalahan di hampir setiap negara dunia, seperti yang sudah dikemukakan di atas.

Dunia tidak bisa lagi menutup mata terhadap ketidakstabilan lingkungan, dan akibatnya. Bentuk perhatian negara – negara terhadap lingkungan, diwujudkan dengan diadakannya pertemuan tingkat menteri dan kepala negara. Begitu banyak pertemuan – pertemuan internasional yang diadakan untuk membahas permasalahan lingkungan, terutama perubahan iklim, dimana yang jadi pembicaraan selalu pemanasan global, emisi karbon, dan menipisnya lapisan ozon. Sebuah permasalahan klasik yang sampai sekarang tidak ditemukan solusinya. Pertemuan tingkat dunia yang terakhir digelar adalah COP 15 Copenhagen pada tanggal 7 – 18 Desember 2009.

Semua negara sepakat untuk menangani bersama permasalahan lingkungan ini. Tapi perundingan yang terjadi di antara mereka begitu alot. Point yang selalu menjadi perdebatan adalah tentang emisi karbon. Terdapat perbedaan jumlah emisi karbon yang harus dikurangi antara negara maju dan negara berkembang. Seperti kasus yang terjadi pada COP 15 Copenhagen kemaren, negara – negara berkembang setuju untuk menurunkan emisi karbon sebanyak 26 persen, tapi USA bertahan dengan proposal mereka, yang hanya menyetujui penurunan emisi sebanyak 17 persen.

Pertemuan ini bisa dibilang tidak menghasilkan keputusan, karena masing – masing pihak bertahan dengan kepentingannya. USA tidak bisa menerima kesepakatan untuk menurunkan emisi sebanyak 26 persen, karena akan mendatangkan kerugian pada mereka. Sebagai negara kapitalis, maka perekononian bergantung pada hasil produksi. Jika mereka menyetujui pengurangan emisi sebanyak 26 persen, maka otomatis mereka meminta pabrik menurunkan tingkat produksi. Hal ini menyebabkan perekonomian USA tidak berjalan sebagai mana mestinya.

Walaupun begitu, muncul isu baru dalam pertemuan itu, yaitu jual beli karbon. Ini berarti negara – negara kapitalis memberikan dana kepada negara – negara yang mempunyai hutan tropis untuk melindungi hutan mereka, dan melakukan reboisasi terhadap lokasi – lokasi yang sebelumnya jadi tempat pembalakan liar, sehingga permasalahan iklim bisa diatasi jika jumlah hutan yang ada tidak berkurang dan terpelihara dengan baik. Salah satu negara yang ikut mencetuskan ide ini adalah Indonesia.

Ini mungkin bisa dianggap sebagai salah satu jalan keluar, dan menjadi aksi bersama negara – negara dunia dalam melindungi lingkungan dari kerusakan yang lebih parah. Tapi yang perlu diperhatikan adalah, negara – negara dengan hutan tropis merupakan negara – negara berkembang dengan permasalahan dalam negeri yang rumit, seperti perekonomian dan pengangguran. Negara yang saya maksud adalah tentu saja Indonesia dan Brazil. Di Indonesia, faktor utama terjadinya pembalakan liar adalah tekanan ekonomi, dan sampai saat ini pemerintah belum bisa menangani masalah ini. Selain itu, terjadi pembakaran hutan tiap tahunnya di Kalimantan dan Riau, dengan alasan pembukaan lahan. Sangat sulit untuk menjaga tidak berkurangnya luas hutan di Indonesia, selain karena faktor ekonomi, aparat yang bertanggung jawab (polisi hutan) jumlahnya tidak sebanding dengan luas hutan yang harus dijaga. Saya kira keadaan di Brazil juga tidak jauh berbeda.

Sejauh ini, kesepakatan yang dihasilkan oleh negara – negara dunia terkait dengan lingkungan hanya keputusan normatif. Jika tidak ada aksi pasti dan kebijakan yang mengikat kuat dari para pemimpin dunia terkait permasalahan lingkungan ini, maka yang akan kita lihat kedepan adalah kehancuran yang diakibatkan oleh modernisasi.

Ketidakstabilan lingkungan membawa pada keadaan yang lebih buruk, seperti mengancam ketahanan pangan, wabah penyakit, dan kekeringan, sehingga perlindungan lingkungan tidak hanya menjadi aksi bersama negara – negara dunia, tapi seharusnya juga menjadi hirauan semua manusia yang hidup di bumi ini. Masyarakat dunia harus melakukan aksi bersama untuk melindungi bumi ini.

Walaupun negara – negara baru bisa menghasilkan keputusan yang bersifat normatif, tetapi masyarakat dunia bisa melakukan aksi yang sifatnya lebih konkrit, dengan bantuan dari NGO – NGO yang menjadikan lingkungan sebagai bidang hirauan nya. Masa depan dunia dan kelestarian lingkungan berada di tangan manusia, karena manusia bertindak sebagai pengelola lingkungan. Apa yang mereka lakukan hari ini menberikan dampak pada kehidupan generasi mendatang.

Posted in learning and sharing | Leave a comment

curcolan gaje mahasiswa stress


ini hanya tulisan gaje dari seorang mahasiswa yang bingung. jadi maaf aja kalo terkesan nyampah.

uda hampir 4 tahun gw kuliah, waktu memasuki universitas tahun 2008 yang lalu gw sangat bangga dengan status mahasiswa yang gw sandang, tetapi sekarang gw justru pengen cepet cepet melepas status itu. dulu ketika masi zaman SMA sangat pengen cepet cepet jadi mahasiswa, tetapi sekarang pengennya cepet cepet ninggalin kampus. aneh memang manusia! satu persatu temen temen gw uda di wisuda, bahkan uda ada yang kerja dan berkeluarga. envy aja ngeliat temen yang sama sama masuk uni, tapi dapat gelar sarjana duluan, rada dikit minder githu… (curcol dikit boleh yaa) keluarga juga uda nyinyir nanyain kapan kuliah gw kelar. well,, ternyata hidup dibawah tekanan dan terus di desak itu emang ga nyaman banget ya guys!!

gw bilang “hidup dibawah tekanan” karna kondisi gw saat ini yang harus mengerjakan skripsi sebagai syarat kelulusan dan tugas akhir sebagai mahasiswa. ide dasarnya siy sederhana, agar ada yang ditinggalkan mahasiswa di kampus, yang merupakan hasil dari proses perkuliahan selama ini. tapi proses pengerjaan skripsi itu lho yang bikin nyiksa. dari awal gw ga stuju banget ama yang namanya skripsi skripsian, siapa sih pencetus ide brilian kalo untuk dapat gelar sarjana di Indonesia ini harus nulis skripsi??? gw timpukin juga tuh orang!! logikanya siy gini, syarat untuk jadi sarjana itu minimal lulus 144 sks, dimana didalamnya masuk skripsi yang itungannya 6 sks. nahhh… proses pengerjaan skripsi di masing masing orang itu kan ga sama, ada yang bisa kelar 3 bulan, tapi ada juga yang uda 3 semester belum juga kelar. kan konyol banget total sks yang uda terkumpul sebanyak 138 (ambil aja itungan minimal, cuz buat lulus minimal butuh 144) jadi “tergantung” karna nungguin proses yang 6sks itu kelar dulu. coba kalo diganti aja ke kuliah, 6 sks tu kan jadi 2 mata kuliah. kalo kita rata – ratakan seseorang ngambil 18sks per semester, maka dia akan tamat di semester 8, kalo dia ngambil 21sks, maka akan kelar di semester 7, dan kalo persemesternya bisa dapet 24sks di semester 6 tuh orang uda resmi jadi sarjana!! nahhhh,, tapi kalo dengan penulisan skripsi, maka peluang untuk tamat lebih lama itu terbuka lebar, tergantung lamanya proses penulisan skripsi. contohnya saja kalo seorang mahasiswa uda ngumpulin 138 sks di semester 6 atau 7, dan dia nyambil ngerjain skripsi sekalian kuliah, jika proses skripsinya lancar saja atau “lewat jalan tol” maka dia bisa tamat di semester 7 atau 8, nah gimana kalo mahasiswa itu baru kelar ngerjain skripsi setelah 3 semester??? dia baru akan tamat di semester 9 atau 10!! belum lagi mahasiswa yang memerlukan waktu lebih lama untuk ngelarin skripsi. rugi banget kan???? selain rugi materi, juga rugi psikologis, dan juga rugi itung itungan umur, karna seperti yang sama sama kita ketahui, umumnya sekarang untuk melamar pekerjaan pakai limitasi umur.

jujur gw mau kuliah sampe 160 atau 170sks, asalkan bisa dapat gelar sarjana TANPA ngerjain skripsi. toh sekarang pengerjaan skripsi uda jadi proyek dan industri tersendiri di kalangan tertentu, karna pangsa pasarnya yang luas dan penghasilan yang lumayan menggiurkan. banyak banget sarjana yang lulus dengan skripsi yang dibuat oleh joki. tu mahasiswa tinggal ngasi joki topik penelitiannya apaan, trus begitu skripsinya kelar dan si mahasiswa lulus kompre, maka si joki menerima bayaran sejumlah yang telah disepakati di awal, dan si mahasiswa pun resmi menjadi sarjana. atau skripsi dari hasil plagiatrisme. mahasiswa mengcopy skripsi dari universitas lain yang mempunyai kesamaan dengan judul yang dia ajukan, dia edit dikit, dan jadilah itu hasil karyanya. nah kalo gini kejadiannya, ga sampai dong sasaran yang ingin dituju oleh si pencetus ide skripsi, dan terang saja hal ini sangat bertentangan dengan tri dharma perguruan tinggi!!!!!!

gw menolak penulisan skripsi sebagai syarat mendapat gelar sarjana karna pada dasarnya gw merasa terbebani, dan karna sifat pemalas gw yang makin hari makin akut (kalo ada yang tau obatnya, share dong😀 ). so seperti yang sudah di duga, gw demen banget kerja pas uda deket deket deadline, alias hidup dengan filosofi “the power of kepepet”. nah skripsi kan ga ada deadline nya tu, semua tergantung kita, kalo gini ceritanya kapan skripsi gw kelar coba??? (derita gw.. hiks hiks..). seperti yang uda gw bilang di awal tadi, ini cuma tulisan gaje. so bagi para pembaca silakan aja kalo ga sependapat ama gw (syukur syukur ada yang baca tulisan ini)

Posted in random | 3 Comments