Konflik Etnis di Bosnia


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konflik etnis adalah konflik yang terjadi hampir di seluruh negara di dunia, bahkan di negara dengan tingkat keragaman etnis terbesar di dunia, yaitu Amerika Serikat. Pada beberapa kasus, konflik etnis yang terjadi sangatlah ekstrim, bahkan berujung pada tindakan genosida, yaitu pemusnahan suatu kelompok etnis oleh kelompok etnis lain, seperti apa yang terjadi di Jerman selama Perang Dunia II, di Rwanda pada tahun 1994, kasus di Yugoslavia, dan lain sebagainya.

Ada berbagai macam hal yang menyebabkan terjadinya konflik antar etnis, yaitu ketimpangan ekonomi, agama, superioritas etnis, dan kebijakan yang muncul dari pemerintah. Konflik yang terjadi bisa saja diakibatkan oleh sebab tunggal, tapi umumnya konflik terjadi karena berbagai faktor pemicu yang saling tumpang tindih, sehingga sangat sulit untuk mencari sebab awal terjadinya konflik itu.

Pada rentang tahun 1993 sampai 1995 terjadi perang saudara, yang kemudian meluas menjadi konflik bersenjata internasional, merupakan akibat lain dari perang dingin, dimana kekuasaan Uni Sovyet berakhir, dan Amerika Serikat keluar sebagai pemenang. Uni Sovyet pecah menjadi lima belas negara bagian, dan kondisi perpolitikan di negara itu kacau balau. Salah satu negara baru pecahan Uni Sovyet ini adalalah Bosnia dan Republik Federal Yugoslavia (sekarang berganti nama menjadi Serbia – Montenegro). Dalam konflik etnis yang terjadi di Bosnia ini, disinyalir adanya keikutsertaan pihak luar, yaitu Republik Federasi Yugoslavia, dan Kroasia.

Banyak spekulasi yang beredar terkait dengan konflik yang terjadi, salah satunya adalah pemusnahan etnis Bosnia, yang rata – rata Islam, oleh bangsa Serbia, karena Bosnia akan memproklamasikan diri sebagai Negara Islam di daratan Eropa, dan jika ini terjadi, maka Bosnia adalah satu – satunya negara Islam dikawasan ini. Keadaan ini tentunya membahayakan negara – negara lain, karena banyak negara yang masih menyimpan dendam pada Islam, karena kekalahan mereka di Perang Salib.

Konflik yang terjadi di Bosnia ini terbilang rumit, karena tidak hanya melibatkan satu dimensi saja, melainkan banyak dimensi yang saling tumpang tindih, yaitu politik, agama, dan superioritas etnis itu sendiri, sehingga sangat sulit untuk mengurai benang kusut permasalahannya.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian singkat pada latar belakang diatas, maka dapat kita tarik suatu rumusan masalah, yaitu “Bagaimana konflik etnis bisa terjadi di Bosnia, dan usaha – usaha penyelesaian apa saja yang telah dilakukan untuk penyelesaian konflik ini”

C. Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis sebagai pemenuhan tugas pada mata kuliah “Kajian Lintas Budaya” Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Andalas, Padang. Makalah ini akan mencoba mengulas dan mengelaborasi kasus konflik etnis yang terjadi di Bosnia pada tahun 1992 – 1995.

D. Landasan Teoritis dan Konseptual

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri – ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.

Brown mendefenisikan konfllik etnis sebagai konflik yang terkait dengan permasalahan – permasalahan mendesak mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teritorial antara dua komunitas etnis atau lebih. Konflik etnis umumnya bernuansa kekerasan, tetapi ada juga yang tidak. Contohnya adalah permintaan suku Quebec untuk memperoleh pemerintahan otonom yang lebih besar dari pemerintahan Kanada.

Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota – anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi. Frederich Barth (1988) mengatakan bahwa istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal – usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Etnik dan Etnisitas

Awalnya istilah etnik disematkan pada suku – suku tertentu yang telah lama bermukim di Indonesia, tapi bukan keturunan asli Indonesia, dan tetap mempertahankan identitas mereka dengan cara – cara khusus. Seiring perkembangan zaman, istilah etnik menjadi sinonim dari kata suku, pada suku – suku yang dianggap asli Indonesia. Sekarang ini penggunaan kata suku sudah mulai ditinggalkan, karena berasosiasi dengan keprimitifan, dan kata etnik diangap lebih netral. Istilah etnik merujuk pada sekelompok orang, sedangkan etnis adalah orang – orang yang tergabung dalam kelompok.

Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota – anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi.

Frederich Barth (1988) mengatakan bahwa istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal – usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Sebuah kelompok etnis pertama kali diidentifikasi melalui hubungan darah. Smith mengatakan bahwa setidaknya ada enam hal yang harus dipenuhi, yaitu:

1.      Suatu kelompok harus punya nama sendiri. Nama menandakan adanya identitas sosial yang cukup solid

2.      Keyakinan anggota kelompok bahwa nenek moyang mereka sama

3.      Orang – orang dalam kelompok harus memiliki ingatan sosial yang sama, berupa mitos dan legenda yang disampaikan dari satu generasi ke generasi lain secara turun temurun

4.      Kelompok harus berbagi budaya yang sama, yang dilihat dari kombinasi bahasa, agama, norma adat yang berlaku, karya seni, dan makanan

5.      Orang – orang dalam kelompok harus merasa terikat dalam teritori tertentu

6.      Orang – orang dalam kelompok harus merasa dan berpikir bahwa mereka adalah bagian dari suatu kelompok yang sama.

Terkadang antara satu etnis dengan etnis lainnya terdapat kemiripan dalam bahasa mereka, seperti bahasa Jawa yang mirip dengan bahasa Bali, atau bahasa Minang yang mirip dengan bahasa Banjar. Hal ini mungkin terjadi karena kesamaan sejarah tradisi kuno, sehingga mewariskan tradisi yang mirip.[6]

Dalam antropologi terdapat tiga teori tentang etnisitas, yaitu teori primordial, teori situasional, dan teori relasional. Teori primordial menyatakan bahwa etnisitas adalah suatu keadaan yang meliputi keterikatan manusia dengan dengan teritorial dan hubungan kekerabatan. Teori situasional mengatakan bahwa kelompok etnis adalah entitas yang dibangun atas dasar kesamaan para warganya. Etnis merupakan hasil dari adanya pengaruh yang berasal dari luar kelompok. Teori relasional mengatakan bahwa etnis merupakan penggabungan dua entitas atau lebih yang memiliki persamaan dan perbedaan yang telah dibandingkan dalam pembentukan etnis dan pemeliharaan batas – batasnya.

B. Konflik Etnis di Bosnia

Konflik etnis bisa didefenisikan sebagai konflik yang terkait dengan permasalahan – permasalahan mendesak mengenai politik, ekonomi, sosial, budaya, dan teritorial antara dua komunitas etnis atau lebih. Penggunaan kata konflik etnis sangat fleksibel. Terkadang kata ini digunakan untuk menggambarkan kondisi yang sama sekali tidak terkait dengan basis etnis.

Menurut Brown, konflik etnis berawal dari konflik lokal yang tidak memiliki basis etnisitas, tapi kemudian cakupannya melebar hingga melewati batas antar negara. Akar konflik etnis ini tidak bisa hanya karena satu faktor saja. Brown mengajukan tiga level analisis untuk memahami akar – akar penyebab konflik, yaitu level sistemik, level domestik, dan level persepsi.

Penyebab pada level sistemik adalah lemahnya otoritas yang ada untuk mencegah kelompok etnis saling berkonflik, dan yang berlaku adalah sistem anarki. Level domestik terkait dengan kemampuan pemerintah untuk memenuhi kehendak rakyatnya. Pengaruh nasionalisme yang lebih didasari superioritas sebagai bagian suatu etnik, ketimbang menyadari bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, dan relasi antar etnik dalam masyarakat. Pada lavel persepsi, para ahli mengatakan bahwa koflik etnis bisa terjadi karena adanya pemahaman sejarah yang tidak tepat mengenai relasi antar etnik. Sejarah yang dipahami bukanlah hasil dari penelitian yang objektif, melainkan yang berupa mitos dan legenda yang diceritakan dari satu generasi ke generasi, yang kemudian menjadi bagian adat istiadat.

Bosnia adalah pecahan dari negara federal Yugoslavia. Negara ini mempunyai catatan konflik berkepanjangan, sejak awal dibentuk, hingga dibubarkannya menjadi beberapa negara bagian. Negeri ini sempat di porak porandakan oleh Nazi Jerman dimasa Peran Dunia 1, dan mencapai kedamaian semu semasa pemerintahan Tito, yang berusaha menyelesaikan konflik yang terjadi dibawah bendera komunisme, dan menggunakan tangan besi untuk mengatasi ketidakpuasaan rakyat terhadap keputusan – keputusannya. Ketika Tito meninggal, konflik etnis dan agama kembali meletus yang akhirnya meruntuhkan negara itu.

Konflik etnis yang terjadi di Bosnia adalah gabungan dari faktor politik dan agama. Bosnia resmi menjadi sebuah negara merdeka pada 15 Oktober 1991, melalui referendum yang diikuti oleh etnis Bosnia yang mayoritas Muslim, dan Kroasia. PBB menyetujui keputusan ini, begitu juga dengan 120 negara lainnya. Keputusan ini ditentang oleh penduduk Serbia. Ini adalah awal terjadinya konflik etnis yang berujung pada konflik bersenjata internasional.

Serbia yang tidak setuju dengan hasil referendum kemudian membombardir ibukota Bosnia, Sarajevo, dan kota – kota lainnya. Data menyebutkan bahwa korban dari agresi ini berjumlah sekitar 200.000 orang, dimana hampir semuanya beragama Islam. Disinyalir bahwa agresi ini bertujuan untuk menghapuskan etnis Muslim di Bosnia, dan mencegah terbentuknya negara Bosnia sebagai satu – satunya negara Islam di daratan Eropa. Serangan Serbia ke Bosnia ini juga disinyalir didukunng oleh negara – negara Barat yang terlibat Perang Salib.

Perang antara etnis Serbia dengan etnis Kroasia terjadi pada awal tahun 1992 akibat tidak menentunya situasi di wilayah Bosnia Herzegovina. Aksi-aksi dari pihak Kroasia terhadap pihak Serbia Bosnia Herzegovina atau sebaliknya telah mengawali perang antara etnis Serbia Bosnia dan Kroat Bosnia. Pecahnya konflik bersenjata antara pihak Serbia Bosnia dan Kroat Bosnia dimulai dari serangan pihak Kroat Bosnia, di bawah pimpinan dari golongan ekstrim kanan Kroasia, terhadap penduduk Serbia Bosnia di desa Sijekovac dekat kota Bosanski Brod (bagian utara Bosnia Herzegovina) yang menewaskan 29 orang penduduk sipil Serbia Bosnia Herzegovina, 7 orang wanita Serbia Bosnia menderita perkosaan dan 3 di antaranya dibunuh.

Wilayah Bosnia yang terletak di jantung Federasi Yugoslavia telah menjadi rebutan sejak masa kerajaan Austro – Hongaria melawan pengaruh kerajaan Turki Ottoman, karena letaknya yang strategis, dan merupakan mesin utama perindustrian di Yugoslavia, dan mempunyai sumber daya alam dengan potensi ekonomi yang besar. Pemerintahan diatur secara bergilir oleh tiga etnis dominant di Bosnia (Muslim, Serbia dan Kroat), ikut menambah kerawanan negeri ini, karena pengaruh pada salah satu etnis dari negara tetangga ataupun dari luar, dapat segera membakar kearah pertikaian.

Situasi politik yang tegang, pernyataan-pernyataan para anggota pimpinan ketiga golongan etnis yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dari hari ke hari makin mempertegang situasi, namun keadaan masih tetap di bawah kontrol. Api perang tersulut, konflik bersenjata tidak terhindarkan lagi setelah terjadi pembunuhan terhadap seorang etnis Serbia yang sedang menikahkan putranya tanggal 30 Maret 1992 di pusat kota Sarajevo.

Penyerang kemudian diketahui seorang muslim Bosnia, dan ini menimbulkan ketegangan dalam masyarakat, yang mengakibatkan terjadinya perang sporadis. Klimaks konflik ini adalah saat masyarakat Eropa dan Amerika mengakui berdirinya Bosnia – Herzegovina sebagai negara yang berdaulat. Pengakuan ini mendorong pemimpin Bosnia Herzegovina menyatakan bahwa etnis Serbia merupakan agresor yang membahayakan kelangsungan etnis Bosnia. Pernyataan ini membuat konflik yang berkecamuk semakin menjadi – jadi.

Konflik ini kemudian ditunggangi berbagai macam kepentingan, milter maupun politik. Dalam politik telah terbentuk koalisi antara Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia sejak proses pemisahan diri Republik Bosnia Herzegovina dari Yugoslavia. Keadaan tersebut juga diikuti di bidang militer dimana terjadi aliansi antara kekuatan militer Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia untuk mengimbangi kekuatan Serbia Bosnia.

Penyelesaian krisis di wilayah Bosnia Herzegovina melalui perundingan yang tidak berhasil menghentikan krisis Bosnia Herzegovina, dan telah mendorong konflik bersenjata di lapangan antara pihak Serbia Bosnia dengan Muslim – Kroat Bosnia semakin meluas demi kepentingan – kepentingan tertentu. Dalam perang saudara, perang antar etnis dan agama yang terjadi di Bosnia Herzegovina banyak diwarnai oleh pertempuran – pertempuran antara pasukan Serbia Bosnia dengan pasukan Muslim – Kroat. Front pertempuran timbul di seluruh wilayah Bosnia Herzegovina.

Perkembangan situasi politik di Bosnia Herzegovina turut memengaruhi perkembangan situasi militer. Kegagalan – kegagalan usaha – usaha perdamaian yang disponsori oleh masyarakat internasional telah mendorong meningkatnya pertempuran-pertempuran di antara pihak – pihak yang bertikai di Bosnia Herzegovina. Persetujuan – persetujuan gencatan senjata tidak mampu menghentikan perang yang berkobar di antara pihak – pihak yang bertikai terutama antara pasukan Muslim Bosnia bersama – sama dengan Kroat Bosnia melawan pasukan Serbia Bosnia.

C. Penyelesaian Konflik

Berlarutnya masalah yang terjadi di Bosnia ini membuat PBB dan beberapa organisasi internasional lainnya turun tangan. Usaha – usaha yang dilakukan antara lain:

1.      PBB menghimbau agar Serbia menarik pasukannya dari Bosnia

2.      NATO mengirimkan pasukannya, dan memaksa Serbia meninggalkan Bosnia, dan memaksa Serbia melakukan perundingan di Beogard, yang diawasi oleh PBB

3.      Indonesia mengirimkan pasukan Garuda, bantuan makanan dan obat – obatan.

4.      Perundingan Dayton 1 November 1995 dibawah pengawasan NATO, Amerika, dan PBB, antara Serbia, Bosnia, dan Kroasia. Perjanjian ini disetujui di Pangkalan Udara Wright-Patterson di Dayton, Ohio. Hasil perundingan Dayton adalah:

  • Bosnia Herzegovina tetap sebagai tunggal secara internasional
  • Ibukota Sarajevo tetap bersatu di bawah federasi muslim Bosnia
  • Penjahat perang seperti yang telah ditetapkan mahkamah internasional tidak boleh memegang jabatan.
  • Pengungsi berhak kembali ke tempatnya
  • Pelaksanaan pemilu menunggu perjanjian Paris

BAB III

PENUTUP

Konflik etnis yang terjadi di Bosnia merupakan hasil dari prasangka antar etnis, dan benturan berbagai kepentingan. Konflik yang berawal dari perang saudara ini kemudian meluas menjadi konflik bersenjata internasional, dan melibatkan berbagai pihak. Konflik ini mengarah pada genosida, dengan indikasi adanya usaha yang dilakukan oleh pihak Serbia untuk menghapuskan etnis Bosnia yang mayoritas Muslim, dan mencegah terbentuknya negara Islam Bosnia.

Konflik juga terjadi karena adanya prasangka antar etnis, dan hubungan yang dibangun lebih berdasarkan pada unsur kepentingan ketimbang persaudaraan dan keyakinan sebagai suatu bangsa. Superioritas etnis jelas terlihat ketika etnis non muslim yang jadi mayoritas di Eropa, berusaha menghapuskan minoritas Muslim yang terkonsentrasi di Bosnia. Hal ini hampir menyerupai apa yang terjadi ketika Nazi Jerman melakukan genosida terhadap etnis Yahudi.

Walaupun awalnya mereka adalah satu kesatuan, yaitu bagian dari Federasi Yuboslavia, namun mereka tidak merasakan adanya kesamaan entitas yang mengikat mereka sebagai suatu bangsa. Perbedaan tetap dipelihara, yang akhirnya menjadi sumber konflik, bahkan pembantaian suatu etnis terhadap etnis lainnya. Konflik yang terjadi tidak sebatas konflik etnis domestik, tapi telah meluas menjadi konflik bersenjata internasional, dan menjadi perhatian dunia. Konflik ini adalah konflik terburuk semenjak berakhirnya Perang Dunia II.

Referensi

http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/10/konflik-antar-etnis/

http://rumahfilsafat.com/memahami-seluk-beluk-konflik-antar-etnis-bersama-michael-e-brown/

http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/etnik-dan-etnisitas.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Bosnia

http://id.wikipedia.org/wiki/Bosnia_dan_Herzegovina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s